Friday, January 25, 2019

Belajar dari Kisah : Cinta Luar Biasa di Balik Mie Ayam Seharga 2 ribu

12:08 AM 14
Akhir-akhir ini warganet dihebohkan oleh suatu hal, bukan persaingan antara Pak Jokowi dan Pak Prabowo itu sih selalu dipanas-panasi dengan berbagai bumbu. Nah kali ini yang menjadi viral juga sesuatu yang berbumbu dan salah satu makanan favorit saya.

                  Aceh.tribunnews.com

Mie ayam dengan harga hanya 2 ribu rupiah menyedot perhatian warganet. Suami isteri asal Sragen, Jawa Tengah menjadi pusat perbincangan karena mie ayam yang mereka buat dinilai terlalu murah.

Kalau di daerah saya sih 2 ribu rupiah hanya untuk bayar parkir. Pasangan suami istri ini bisa mengolah sedemikian rupa sehingga mie ayam yang mereka jual seharga ongkos parkir, kalau saja di tempat jualan mereka ada tukang parkir, bisa minder dia.

Soalnya terkadang beberapa oknum tukang parkir cuma ada ketika kita mau pergi. Eh jadi membicarakan tukang parkir deh. Kembali ke topik utama.

Sepasang sejoli itu menjual mie ayam murah bukan karena mereka orang kaya, bahkan ketika saya menonton wawancaranya di Hitam Putih, modal usaha mie ayam hanya 100 ribu rupiah, itupun hasil meminjam dari saudaranya.

               Wawancara di Hitam Putih

Bukan tanpa alasan mereka menjual mie ayam seharga 2 ribu rupiah, ada kisah di balik harga 2 ribu. Pasangan suami istri itu punya anak yang masih kecil, di suatu hari anaknya itu meminta uang 2 ribu untuk jajan, tapi apa daya ibunya tidak memiliki uang. Sang ayah belum bekerja bahkan uang 2 ribu saja, ia tak punya.

Berangkat dari hal itu, mereka berinisiatif berjualan mie ayam dengan modal 100 rb hasil meminjam. Agar anak-anak kecil seusia anaknya dapat menikmati mie ayam yang mereka jual, dipatoklah harga 2 ribu rupiah perporsi. Itupun dijual dengan menggunakan media sosial seperti Facebook dan Blog.

Tak jarang mereka harus mengantarkan mie ayam itu ke berbagai lokasi, tentu dengan tambahkan ongkos kirim seikhlasnya. Lebih memilukan lagi, mereka mengantarkan pesanan itu hanya dengan berjalan kaki, padahal lokasi pemesan tidaklah dekat.

Media sosial menunjukan kekuatannya, tak berapa lama mie ayam seharga 2 ribu itu viral. Namun ternyata lebih banyak orang yang menghujat daripada mendukung apa yang dilakukan pasangan suami istri itu.

Sebagian besar warganet beranggapan bahwa mie ayam seharga 2 ribu dibuat dari ayam yang sudah menjadi bangkai atau istilahnya ayam tiren. Hujatan demi hujatan menghantam mereka, hal itu sempat membuat pasangan suami istri itu sedih.

Niat baik mereka dinilai jelek oleh sebagian warganet, entah sejak kapan budaya nyinyir semakin parah saja. Sebagian warganet itu tidak berusaha mencari tahu kisah di balik harga 2 ribu.

Dari rentetan perjuangan dan kisah pilu pasangan muda ini. Ada Hal yang saya kagumi dari mereka, ialah ketulusan. Pasangan muda yang umurnya saja sekitar 20 tahun itu tetap bersama walau kesusahan menerjang mereka.

Tak dipungkiri faktor utama penyebab perceraian adalah ekonomi, namun itu semua tak berlaku bagi mereka. Sebagai pria, saya menilai ibu dari anak yang merengek meminta uang 2 ribu itu manis. Saya rasa mudah baginya mencari pria lain yang lebih kaya, namun sang istri memilih setia dengan suaminya, yang saat itu uang 2 ribu pun tak punya.

Di zaman sekarang sulit mencari pasangan yang bersedia mendaki bersama, kebanyakan hanya menunggu di puncak.

Kali ini saya belajar cinta yang luarbiasa di balik kisah mie ayam seharga 2 ribu rupiah.
Karena bahagia tak melulu soal harta. Kebahagiaan sejati tak pernah bisa dibeli.

Wednesday, January 23, 2019

Sebuah Perenungan : Bertambah Bilangan

5:55 AM 5
Tepat hari ini bilangan usiaku bertambah namun jatah hidup semakin berkurang.
Entah mengapa tak begitu excited ketika bilangan usia bertambah, ada pergelokan perasaan yang begitu mendalam. Sudah lama hidup di dunia tapi kadar takwa masih begini saja.

Usiaku sekarang adalah usia di saat Nabi Muhammad menikah. Berbicara soal menikah banyak teman-temanku sudah berkeluarga dan menimang anak yang menggemaskan. "iri ? " tidak, sebab setiap orang mengukir jalan takdirnya sendiri.

Di usiaku yang sekarang bukan saatnya lagi bermain-main dengan cinta, pilihannya hanya satu kalau suka nikahi. Tidak seperti zaman SMA, melihat perempuan yang wajahnya meneduhkan inginnya memiliki.
Ingin rasanya mengikuti jejak nabi yang menikah di usia ini.

Dalam perihal hobi,awal-awal kuliah banyak hal yang aku lakukan, editing foto dan video, belajar akunting dan lain-lain. Di usiaku sekarang hanya ingin fokus pada 3 hal menulis, berbisnis dan mengajar. Eh kalau melakukan 3 hal ini tetap dinamakan fokus bukan yah ? Soalnya menulis dan mengajar sudah menjadi hobi, sedangkan bisnis adalah suatu keahlian yang perlu dimiliki.

Menurut penelitian, di usia ini adalah masa peralihan dari remaja ke dewasa. Banyak hal yang berubah termasuk dalam segi pola pikir.

Sekarang lebih berhati-hati dalam berbicara, tidak mau perkataan menjadi sebuah bumerang bagi diri sendiri, sebisa mungkin menghindari kata-kata yang menyakiti perasaan orang lain.

Dalam bermedia sosial pun lebih berhati-hati mana yang harus dan tidak dibagikan ke media sosial, jangan sampai hal yang bersifat keluh kesah menjadi bahan konsumsi umum. Mulai mengurangi bahkan sebisa mungkin untuk tidak berkeluh kesah di media sosial.

Di umur yang sekarang ini pun harus mulai pandai mengatur keuangan, kurangi membeli barang yang tidak dibutuhkan. Poin ini menjadi bahan renungan yang paling dalam. Masih sering saya membeli hal-hal yang mubazir akhirnya tidak digunakan atau tidak dipakai sama sekali.

Tidak dipungkiri, semakin bertambah bilangan usia semakin berkurang juga lingkaran pertemanan. Teman-teman masa SMA sekarang sedang mengukir mimpi mereka sendiri, jarang lagi bersua untuk sekadar hahaha. Teman kuliahnya sama.

Mulai memaklumi teman yang datang dan pergi, itu tidak lebih dari seleksi alam. Tak begitu mellow jika harus ke mana-mana sendirian, bukan lagi anak remaja yang dengan kehebohan yang luarbiasa. Belajar lebih mendengar daripada berbicara.

Pergantian bilangan angka, ingin kumaknai sebagai perenungan. Merenungkan apa saja yang sudah dan belum dicapai, merenungkan hal-hal yang perlu diperbaiki di masa yang akan datang. Bukan saatnya lagi merayakan dengan kue atau hal-hal menggemaskan lainnya.

Sunday, January 20, 2019

Review Prime Royal Hotel Surabaya

3:59 PM 9
Minggu lalu saya pergi ke Surabaya untuk mewujudkan lagu masa kecil.
"Naik Kereta Api tut tut tut, ke Bandung Surabaya," begitulah lirik lagu anak-anak yang sering saya nyanyikan dulu.

Saat itu adalah pertama kalinya saya ke Surabaya. Saya tidak terlalu merencakan perjalanan ini secara detail seperti tempat mana saja yang harus dikunjungi dan lain-lain, bahkan memesan hotel pun ketika di perjalanan kereta.


Klik di sini untuk mengetahui tempat saya saya kunjungi selama di Surabaya.

Saya putuskan untuk menginap di Prime Royal Hotel Surabaya, hotel bintang 4 katanya. Saya memesan hotel itu melalui aplikasi OYO jadi dapat potongan setengah harga. Harga awalnya 500 rb permalam menjadi 189 rb.


Lumayan dong, kebetulan saya berdua bersama adik jadi bisa patungan. Daripada memesan losmen yang hanya bisa diisi satu orang saja dengan harga 100 rb perkamar, mending ini deh.

Saya datang ke hotel pukul 12 tapi katanya belum bisa check in, sekalipun saya sudah memasang wajah memelas. Walhasil pergi ke masjid deh sekalian salat dan tidur-tiduran, lumayan perjalanan 12 jam Bandung-Surabaya melelahkan.

Tepat pukul 2 siang saya kembali ke Hotel.
Saya melakukan registrasi dan pembayaran, malah bayarnya juga pakai uang seribuan. Saat itu tidak malu karena tidak kenal juga haha.

Masuklah saya ke kamar nomor 250. Pintu kamarnya dibuka pakai kartu dong. Ini pertama kalinya saya menginap di hotel yang membuka pintunya pakai kartu. Saya coba mendekatkan kartu ke gagang pintu, walhasil terbuka.

Namun ada satu masalah. kok lampunya mati. Saya coba nyalakan sana-sini kok tetap mati, saya panggil CS. CS meminta kartu kamar saya, lalu memasukan kartu itu ke sebuah slot. Taraa lampunya nyala. Saat itu saya malu, kelihatan katro deh.

Sesampai di kamar, saya lihat-lihat. Wow memang mewah. Berasa jadi crazy rich Surabaya. Kamarnya bersih disertai meja untuk membaca dan menulis.


Disediakan juga air minum 2 botol beserta termos elektrik untuk menyeduh kopi dan teh yang disediakan pula.

Saya melihat kamar mandi, kamar mandinya keren. Selain ada shower air hangat, disediakan juga pasta gigi, gel rambut, lotion, dan tentu handuk beserta sandal. Kerenkan kamar mandinya ?
Saya ambil foto kamar mandi di aplikasi OYO, padahal aslinya lebih keren. Cuman yah perlu membiaskan diri mengambil foto kamar mandi hihi

Untuk dekorasi kamarnya sendiri, instagramable banget.


Kesan modern minimalis sangat terasa dengan aksen ukiran disertai lampu lampion menambah kesan mewah.


Saya ambil gambar ini di aplikasi OYO karena tidak sempat mengambil gambar keseluruhan hotel, terlalu lelah. tapi 90 % mirip kok

Untuk fasilitas hotel juga disediakan restoran tersendiri jadi tidak perlu keluar. Meski untuk dompet saya harga di restorannya termasuk mahal. Saya tetap jajan di luar hotel. Di depan hotel terdapat banyak pedagang kaki lima yang masakannya weunak weunak.


Di hotel ini juga ada kolam renangnya loh, tapi saya tidak mencoba kolam renangnya. Selain tidak bisa berenang, baju yang saya bawa terbatas. Jadi hanya lihat-lihat sekitar kolam renang.


Prime Royal Hotel Surabaya, dekat sekali dengan Stasiun Pasar turi, jaraknya kurang dari 1 KM jadi bisa jalan kaki. Terletak di lingkungan strategis dan jalan utama di Surabaya, ke mana-mana mudah deh. Tinggal pesan Grab atau Gojek juga cepat.


Kesimpulannya :

Harga = 9/10
Fasilitas = 8/10
Pelayanan = 7/10
Kamar = 9/10

Kalau pergi ke Surabaya berdua, tentu saya akan ke Hotel ini lagi apalagi dikasih gratis hehe.

Saturday, January 19, 2019

Facebook yang Sekarang Bukan Facebook yang Dulu

10:47 PM 4
"Aku yang dulu bukanlah yang sekarang, dulu ditendang sekarangku disayang.
Dulu dulu dulu kumenderita, sekarang aku bahagia,"

Tulisan di atas adalah sebuah lirik lagu dari Tegar, seorang anak yang berprofesi sebagai pengamen yang sempat viral.
Lagunya menceritakan kisah hidup Tegar, yang dulu menderita namun setelah viral diundang ke mana-mana dan secara ekonomi bahagia.

                         Theverge.com

Secara tidak langsung media sosial lah yang menyebabkan Tegar menjadi terkenal, meski sekarang namanya tak begitu bersinar seperti dahulu. Saya sempat lihat Tegar di Youtube, dia menjadi seorang Youtuber ternyata. Mengcover lagunya sendiri dan lagu yang sedang viral juga.

Youtuber salah satu pekerjaan yang cocok untuk anak milenial, baca di sini

Tegar besar di media sosial, tepatnya Facebook. Saya pertama melihat Tegar pun di jejaring sosial milik Mark ini. Melihat Tegar kecil mengamen dengan suara indahnya menyebabkan warganet pengguna FB bersimpati kepadanya.

Sayang FB yang membesarkan nama Tegar, tidak mengasyikan seperti dulu, kalau dulu FB tempat menyatukan seseorang yang jauh sekaligus tempat bersilaturahmi. Akhir-akhir FB berubah, mirip lagu Tegar.

"Facebook sekarang bukanlah facebook yang dulu, dulu tempatnya mengasyikan sekarang facebook tempat hujat-hujatan"

Begitulah gubahan lagu Tegar versi Facebook. Semenjak masuknya pakar-pakar politik dadakan di FB. Dunia per-FB-an semakin hot saja dengan hujatan-hujatan disertai bumbu hoax sana-sini.

Wajar sih bila facebook dijadikan ajang ajakan memilih calon Presiden tertentu, yang nggak wajar itu nyinyirnya ituloh.

Seolah pendukung Capres A, anti banget dengan kebaikan Capres B. begitupun sebaliknya. Jangan sampai dibutakan oleh politik sesaat, Capres pilihanmu bisa saja jadi rekan capres yang kamu nyinyirin.

Jangan sampai gegara politik hubungan dengan teman retak, padahal sesudah junjungan yang dielu-elu terpilih kalau tidak berusaha toh rupiah tidak datang begitu saja.

Berpolitik boleh tapi yang sejuk yah ? saya rindu Facebook yang dulu. Sekarang di Facebool gerah banget.

Friday, January 18, 2019

Perjalanan Menulis, Dari Coretan Meja Hingga Jurnal

6:21 AM 7
Sejak SD saya sudah suka menulis, kala itu sering sekali menulis di meja sekolah. Meja sekolah seperti tempat berekspresi paling nyaman. Sekarang baru sadar bahwa itu adalah sebuah Vandalisme.

Waktu kecil jangankan mengerti vandalisme, pakai sampai sendal swallow saja yang putus terus diakali menyambungkannya dengan paku. Menyedihkan deh.

Setelah menulis di meja, karir menulis saya melesat. Kali ini mencoba menulis di kertas bekas bungkus gorengan, entah kenapa tulisan ini jadi berminyak. Rasanya harus pakai pelembab.

SMP kelas 2,  baru punya HP. Sering banget ngeSMS semua teman di kontak dengan puisi buatan sendiri. Maklum saat itu kalau kirim SMS 5 kali, gratis SMS seharian. Lumayan daripada mubazir.

Menginjak SMA, memulai membuat blog. Tentu blog gratisan terhits yaitu blogspot. Masa itu merasa keren banget. Meski menulisnya sesekali karena terkendala kuota internet.

Momen SMA sedang ngehits banget Facebook. Hasrat menulis saya disalurkan di sana. Sama seperti saat SMP, saya coba menandai banyak orang di status "puisi" Facebook yang saya buat.

Menginjak semester awal kuliah, baru pertama punya HP android yang memiliki aplikasi BBM, telat memang. Saya bukan anak hits yang sempat punya Blackberry. Di BBM juga sering melakukan Broadcast Message (BC) ke setiap kontak. Beberapa hari melakukan itu baru sadar, saya alay banget.

Agar tidak dicap alay, saya mulai menulis di blog lagi, sesekali mengirim tulisan ke media seperti pikiran rakyat. Beberapa kali di muat, lebih sering tidak. Sempat juga menulis di media online sebagai kontributor.
                 Tulisan di Pikiran rakyat

Hipwee.com menjadi salah satu media tempat saya menulis. Dulu Hipwee belum sebesar sekarang, fanspage faceboknya baru ribuan yang like. Sekarang sudah sampai sejuta. 5 atau 6 tulisan saya abadi di sana, kalau tidak salah pembacanya sudah ribuan.
                 Tulisan di Hipwee.com

Duh jadi malu, tulisan saya di hipwee masih ancur. Sekarang sih sedikit mendingan, setidaknya tidak membuat mual yang membaca.

Sembari menulis di hipwee, saya sering ikut lomba penulisan online. Beberapa berhasil juara dan dibukukan, senang banget. Karena selain dapat hadiah dan sertifikat, dapat juga buku terbitan. Beberapa buku berhasil saya koleksi sekarang, tidak banyak tetapi lumayan untuk jejak sejarah.
                  Karya Antologi dan Solo

Menjelang semester akhir, mencoba menulis novel meski sering mandeg di tengah jalan. Pada suatu waktu, saya tergabung dengan ODOP (grup kepenulisan) di sana bertemu juga dengan Ciani Limaran.

Kami mengobrol hingga pada kesimpulan ingin membuat novel dengan 2 sudut pandang. Singkat cerita jadilah novel itu, sudah tahukan novelnya apa ? yap "Menuntaskan Rindu"

     Novel pertama "Menuntaskan Rindu"

Di ODOP juga menulis banyak antologi lainnya. Dengan teman kuliah sempat menulis kumpulan sastra berjudul "Gado-gado sastra. Dengan teman di saat S2 : Teh Mutiara, menulis antologi puisi "Bukan Sekadar Kata Mutiara"
                        Antologi Puisi

Di S2 juga berlatih menulis jurnal ilmiah, di beberapa universitas di muat dalam bentuk jurnal online dan prosiding. Asalnya penulis alay jadi penulis ilmiah. Aga jauh sih.
              Di saat penjadi pemakalah

Sekarang mulai menulis lagi di blog, bedanya sekarang berdomain agar terlihat keren dan menghasilkan eh. Sebenarnya saya punya 2 blog.

Pertama Nychken.web.id, di sini saya menulis apa saja dari keseharian hingga kisah travelling ke beberapa sudut Pulau Jawa, semoga bisa menulis cerita perjalanan ke sudut lain Indonesia atau bahkan dunia. Cita-cita banget deh.

Satunya lagi Agilang.id . Di sini saya menyalurkan hobi menulis info-info menarik dan percintaan ala hipwee. Blognya masih anget banget. Kunjungi yah.

Baru sampai sinilah perjalanan menulis saya, tentu ingin lebih "menjelajah" lagi dan makin banyak menyebar manfaat lewat tulisan. Semoga menjadi pemberat pahala kelak.

Thursday, January 17, 2019

Hal Mengerikan di Balik Fenomena 10 Years Challenge

7:16 AM 6
Cukup mengerikan judulnya ? hehe
entah dari mana di mulai 10 years challenge tetiba menyeruak begitu saja.

Mungkin karena datangnya tahun baru 2019 sehingga orang-orang membandingkan dirinya sendiri dengan 10 tahun sebelumnya.

Sebenarnya tak salah melalukan perbandingan tersebut. Namanya juga manusia selalu ingin terlihat lebih baik dari tahun ke tahun, begitulah saya ingin kelihatan lebih tampan dan memesona, namun apa daya lingkar perut semakin membesar.

Meski kebanyakan yang dibandingkan dalam 10 years challenge hanya sebatas fisik saja, tentu fisik dan penampilan akan berubah sesuai dengan isi dompet, semakin tebal dompet semakin dimungkinkan melakukan berbagai perawatan diri

Saya juga ikut-ikutan dong membandingkan diri ini dengan 24 tahun yang lalu, ketika masih berupa sperma. Makin membesar deh sepertinya saya.
10 years challenge memang sebatas seru-seruan saja, tapi jika yang dibandingkan bukan hanya sebatas fisik akan lebih jleb.

Misalkan 10 tahun lalu hafal berapa surat Al-Quran, apakah sekarang masih sama ?

10 tahun lalu belum punya karya, apakah sekarang sudah punya karya ?

10 tahun lalu masih malas menulis dan membaca, apakah sekarang masih sama ?

10 tahun lalu masih jomblo, apakah sekarang masih sama ? 

Wednesday, January 16, 2019

3 Penilaian Masyarakat Tentang Jurusan Bahasa Indonesia

6:30 AM 7
Kuliah di Jurusan Pendidikan bahasa Indonesia atau Sastra Indonesia tidak sefavorit jurusan kedokteran. Tak jarang orang sekitar kita mempertanyakan.

"Mengapa mengambil jurusan Bahasa Indonesia, padahalkan sudah bisa bahasa Indonesia ?" sakit nggak tuh dikatain begitu. Padahal yang dipelajari di Jurusan Bahasa Indonesia tak hanya itu.

Berikut 3 hal mitos yang sering masyarakat "cap" ke mahasiswa yang mengambil jurusan Bahasa Indonesia.

1. Kuliahnya santai paling menganalisis novel saja.

                             Bernad.id

Memang ada mata kuliah yang menugaskan mahasiswa membaca dan menganalisis novel, tapi tidak setiap hari juga. Menganalisis novel pun bukan perkara mudah, perlu kejelian luarbiasa.

Kuliah kami sangat tidak santai, ketika S1 dulu beberapa malam harus begadang untuk mengerjakan tugas. Mengedit naskah, membuat cover buku, belajar periodisasi sastra, kritik sastra, latihan pementasan drama, untuk jurusan pendidikan ditambah mata kuliah pendidikan yang tak kalah menguras tenaga.

2. Anak Bahasa Indonesia kaku, berbicara harus pakai bahasa baku.

                    Gelombangotak.com

Eh wasaaap my friends, nggak gitu juga kali. Anak Jurusan bahasa Indonesia malah asyik banget kalau diajak ngobrol, karena di jurusan bahasa Indonesia tidak melulu belajar EBI (Ejaan Bahasa Indonesia).

Penggunaan EBI pun ada situasi dan kondisinya tersendiri. Nggak mungkin dong ketika membeli sayur di pasar memakai bahasa baku.

"Bu, kalau ibu berkenan izinkan saya membeli sayur ini. Menurut ibu kira-kira berapakah harga sayur ini ?"

Nah, dialog di atas tidak pernah terjadi. Kalau pun terjadi kami sudah digetok ibu-ibu dong karena lama.

Anak Bahasa Indonesia asyik diajak mengobrol karena ada mata kuliah "Berbicara" bahkan hingga 2 kali, selain itu ada lagi mata kuliah "Retorika", seni yang mempelajari berbicara yang mengasyikan.

Pengetahuan juga luas karena diwajibkan membaca, asyik nggak tuh. Kalau ngobrol dengan anak jurusan bahasa Indonesia bisa dari A ke Z, bikin nyaman deh haha.

3. Sudah lulus mau kerja apa ?

                         Temankita.com

Sering sekali saya ditanya dengan pertanyaan seperti ini.

"Jurusan Pendidikan/Sastra Indonesia sudah lulus mau jadi apa ?"

Saya jawab mau jadi pilot, takut dijitak. Lulusan Bahasa Indonesia bisa menjadi apapun, jadi Imam yang baik juga bisa.
Prospek jurusan Bahasa Indonesia bisa mengisi banyak ranah pekerjaan misalkan jadi Guru, editor, penulis, ahli bahasa, bekerja kementrian luar negeri, pembawa acara dan banyak lagi deh cape ngetik hehe.

Intinya jurusan bahasa Indonesia bisa bekerja di segala bidang yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat utamanya. Banyak bangetkan pekerjaan yang memerlukan keterampilan berbahasa Indonesia yang baik.

Yap, tidak semua pandangan masyarakat tentang jurusan Bahasa/sastra Indonesia itu benar. Anak Bahasa Indonesia juga bisa kok menjadi menantu idaman, dengan segala keunikannya.

Tuesday, January 15, 2019

3 Hal yang Dirasa Ketika Teman Nikah Duluan

6:27 AM 5
Manusia, sejatinya makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Misalnya ketika nggak punya uang bisa ngutang kepada teman, eh. Sekuat apapun manusia tak bisa hidup sendirian, itulah yang dialami Nabi Adam.

Dalam perjalanan sebagai makhluk sosial, ada fase di mana membutuhkan pasangan hidup, lalu menikah.Manusia menganggap pernikahan sebagai tahapan kehidupan lanjutan, selain sudah memiliki pasangan, obat dari sepi. Setidaknya kalau sudah menikah tidak perlu berpikir memiliki keturunan dengan cara membelah diri.

Lalu, apa yang dirasa ketika teman terdekat menikah duluan. Sementara kita masih ke mana-mana sendirian.

1. Bahagia

diataspelangi.com

Tentu, melihat teman terdekat menikah yang dirasa pertama ialah bahagia. Teman SMA yang dulu ketika bertemu teman lawan jenis harus bersembunyi di meja, sekarang akhirnya menikah.

Selain itu, kita berbahagia karena di undangan pernikahan bisa bertemu mantan, eh maksudnya teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak berjumpa. Mengobrol tentang kehidupan masa lalu yang begitu berkesan.

Kita juga bisa makan sepuasnya di pernikahan teman, tentu kalau tidak punya rasa malu makanan itu bisa sekalian dibawa pulang ke rumah. Lumayan untuk stock makan beberapa hari ke depan.

2. Sedih.

                      Karyapemuda.com

Selain bahagia, hal yang bertolak belakang yang dirasa yaitu sedih. Sedih bukan karena hanya kita yang tersisa sebagai jomblo satu-satunya, meskipun itu benar. Sedih karena ternyata waktu berjalan begitu cepat.

Teman yang dulu kita sangka tidak akan menikah, karena dengan segala ke anti mainstreamnya dan kekocaknya ternyata kini sudah mempunyai pasangan hiduo, bahkan ada beberapa yang sudah punya anak.

Seolah mereka sudah berlari, memulai kehidupam barunya, tetapi kita masih jalan di tempat memakai alat treadmill.

3. Khawatir

                           lintassorgz.com

lama kelamaan teman-teman yang dimiliki semakin berkurang, bukan karena mereka sudah tiada. Tapi sibuk dengan kehidupan barunya. Jarang teman yang mau diajak nonton bioskop.

Mereka lebih memilih mengurus bayinya. Kalau bayinya diajak nonton bioskop juga kan sayang uangnya, bayi itu belum mengerti betapa romantisnya adegan mengusap kepala.

Terkadang terbersit rasa khawatir, apa jodoh kita belum lahir. Kok yang lain cepat banget menemukan pasangan. Apakah mereka menggosok ale-ale lalu mendapatkan hadiah jodoh ?

Rasa khawatir wajar hadir, namun rasanya tak perlu berlebihan. Toh menikah bukan perkara siapa duluan, tapi perkara siap atau tidak.

Sunday, January 13, 2019

5 Tips Agar Hidup Bahagia

10:41 PM 7
Setiap manusia pasti ingin bahagia, jarang ada orang yang menolak bahagia. Ada sih beberapa orang dalam sinetron yang menikmati ketika disiksa. Buktinya walau sudah dipukul, disiram air keras, dijilat bahkan dicelupin (eh ini kok berasa iklan) tetap saja tinggal di tempat itu.

Kali ini saya mencoba berbagi tips bahagia,

"eh kamu udah bahagia gitu ?"

Berusaha bahagia dong, kan hidup di dunia cuma sekali kalau dipakai berduka sayang dong. Tanpa basa-basi berikut tipsnya.

1. Jangan iri bila orang lain lebih sukses.

Sumber gambar Humairoh.com

Pernah nggak sih merasa iri terhadap pencapaian orang lain ? pasti pernah dong, rasanya bagaimana ? sakitkan. Padahal waktu sekolah atau kuliah si dia itu tukang nyontek tugas kita, eh tapi nasibnya jauh lebih baik daripada kita.

Jangan iri dong, sebaiknya ucapkan selamat atas pencapaian yang dia dapat, meski awalnya berat, tetapi ketika sudah diucapkan akan terasa lebih baik. Daripada menyimpan iri dan mendoakan dia mengalami kejadian yang tidak baik, selain itu berdosa. Setiap doa dan tindakan yang baik akan kembali lagi kepada kita. begitupun sebaliknya.

2. Jangan terlalu banyak mengeluh

Sumber gambar imgrumweb.com

Punya masalah sedikit langsung update di media sosial, marah ke seseorang ngasih kode di media sosial. Seolah media sosial itu "tempat sampah" yang menampung berbagai keluhan kita.

Cara terbaik mengatasi masalah, yah mencari solusi. Kalau update keluhan mulu malah makin nyesek dong. Si mantan bisa bahagia tuh melihat kita menderita. Dalam hati si mantan bekata

"Siapa suruh nggak jadi dengan aku, jadinya menderitakan,"

Tahu ngga sih ? mengeluh itu tanda tak tangguh.

Yuk kurangi berkeluh kesah kalaupun mau berkeluh ada tempat yang lebih pas ialah kepada pemilik raga.

3. Jangan terlalu fokus mengejar materi

Sumber gambar triplesda.blogspot.com

Uang memang bisa membeli apapun kecuali kebahagiaan. Pernah dengar nggak kisah seorang perempuan kaya raya tapi tidak pernah dikarunia anak, bahkan suaminya juga meninggal.

Apa dia bahagia dengan tumpukan uang yang dimilikinya ?
mungkin menurut dia lebih bahagia makan nasi padang pinggir jalan bersama keluarga daripada makan di restoran bintang 5 hanya seorang diri.

Benar kata lagu "Keluarga Cemara"

"Harta yang paling berharga adalah keluarga, mutiara tiada tara adalah keluarga, puisi yang paling bermakna adalah keluarga, istana yang paling indah adalah keluarga" geboy Mang.

4.Jangan memorsir diri untuk bekerja, sesekali lakukan hobi

sumber gambar travelingyuk.com

Adakah di sini yang setiap hari kerja tanpa liburan ? duh kasihan, kaya kagak stress iya. Eh maaf. Bagus loh bekerja dengan giat tapi tidak baik juga jika terlalu giat.

Banyak kejadian di Jepang, saking rajinnya orang Jepang bekerja hingga banyak yang meninggal di tempat kerja. Kan fungsinya bekerja itu cari uang, uang itu untuk memenuhi kehidupan hidup. Kalau bekerja mulu kebutuhan liburan nggak ada dong.

Sesekali ambil cuti, pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi atau bisa juga lakukanlah hobi kalian. Hobi menulis, main piano, hobi stalking mantan eh. Lakukan hobi agar hidup tetap waras.

Sisihkan waktu untuk melakukan hobi.
"Kalau hobinya bekerja gimana hayo ?" eh emang ada yang hobi bekerja, kalau hobi dikerjain ada hehe

5. Mendekatkan diri kepada Tuhan.

Sumber gambar Fauzinesia.com

Manusia tidak semata hanya memenuhi kebutuhan jasmani, ada kebutuhan rohani yang harus diisi. Luangkan waktu untuk belajar ilmu agama, toh hidup tidak selamanya urusan duniawi.

Di dunia ini hanya sementara, jika menyentuh umur 70 tahun itu sudah pencapaian luarbiasa. Sisanya akan kita habiskan di alam kekal nanti.

Kelak agar bahagia dunia akhirat, mempersiapkan bekal mulai dari sekarang. Seringlah membantu oranglain, tersenyum, jauhi rasa iri dan dengki karena itu membuat hidup yang sesaat jadi tidak bahagia.

Yuk bahagia meski isi dompet tinggal Kapten Pattimura.

Saturday, January 12, 2019

Perjumpaan dengan Emak Bangsa

12:20 AM 11
Nama saya Nychken Gilang, biasanya dipanggil sayang oleh Ibu sendiri. Saat ini masih berstatus belum menikah tapi sudah punya banyak anak. Iya, saya seorang guru bahasa Indonesia di sebuah SMK, selain mengajar juga masih berkuliah S2 Pendidikan Bahasa Indonesia, pokoknya tak kalah "Indonesia" dari Indomie.

Entah kebetulan atau kebutuhan hobi saya menulis, dari mulai menulis di tembok WC hingga menulis novel. Uniknya di novel "Menuntaskan Rindu" yang membuat saya beberapa kali dipanggil KPK, eh maksudnya dipanggil mengisi acara pelatihan menulis. Di cover depan novel "Menuntaskan Rindu" Ada sebuah endorsement dari seseorang yang akan saya bahas setajam lirikan mantan pada tulisan kali ini.

Sosoknya bernama Hiday Nur atau saya biasa memanggil dengan sebutan "Mak Hiday" nah berkaitan dengan judul tulisan ini "Perjumpaan dengan Emak Bangsa" kenapa saya melabeli Mak Hiday sebagai Emak Bangsa ? sederhana sebenarnya, tak terlepas dari upaya untuk menyatukan Indonesia, ada Paslon yang melabeli kaum ibu dengan sebutan "Emak-emak" Paslon lainnya menyebut "Ibu Bangsa" maka saya gabung deh jadi "Emak Bangsa"

Pertemuan saya dengan Emak Bangsa dimulai ketika tertarik dengan sebuah tulisan Mak Hiday tentang beasiswa LPDP. Kebetulan saya tergabung di komunitas ODOP, komunitas menulis yang mewajibkan anggotanya untuk menulis di blog setiap hari. Mak Hiday senior saya di sana.

Ketika Mak Hiday membagikan tulisan tentang beasiswa LPDP langsung saya lahap tuh tulisan, Emak Bangsa ini bercerita tentang prosesnya meraih beasiswa LPDP dari awal hingga jadi penerima. Saya yang notabennya senang gratisan, tertarik banget dengan beasiswa itu.

Berselang beberapa bulan terbitlah sebuah buku tentang tips meraih beasiswa LPDP yang ditulis Mak Hiday bersama penerima beasiswa lainnya, tak pikir panjang saya beli dong.

(Buku Mak Hiday bersanding dengan Menuntaskan Rindu) 

Balik lagi ke novel "Menuntaskan Rindu", ketika novel itu sudah rampung, saya mengumpulkan beberapa endorsement dari dosen, teman-teman komunitas, dan tentu Mak Hiday. Saya berpikir endorsement siapa yang ditaruh di depan cover novel ini. Dosen, ah ini bukan buku kuliah.

Saya berpikir sembari bertapa di kamar mandi, aha Mak Hiday saja. Selain Emak Bangsa ini dedengkot FLP Jatim, penerima beasiswa LPDP, dan juga suka menulis sastra.

Pilihan saya memasukan nama Mak Hiday di cover depan tepat, banyak teman yang menyangka ini buku tentang beasiswa LPDP karena saya memasukan itu dalam keterangan endorsement Mak Hiday. Saya jelaskan ini novel cinta, eh mereka masih teguh membeli, yowis lumayan buat makan nasi padang uangnya.

Banyak yang saya kagumi dari sosok Emak Bangsa ini, selain Mak Hiday punya 2 anak dan 1 suami yang lucu eh untuk suaminya saya belum kenalan lucu atau tidak. Yang jelas anaknya yang bernama "Kazumi" lucu banget jadi pengen punya tapi bisa nggak sih buatnya dari terigu aja.

Okey balik lagi, hal yang saya kagumi dari Mak Hiday itu gigih memperjuangkan mimpinya sekalipun sudah berkeluarga, saya yang jomblo saja kadang malas-malasan memperjuangkan mimpi.

Pernah suatu hari saya lihat Mak Hiday, di Jerman terus besoknya di Perancis, besoknya lagi di Belanda. Ini Emak punya kantong ajaib Doraemon kali. Kerennya lagi jalan-jalan ke Eropanya sendirian, saya aja yang pergi ke pasar masih bareng Mamak, takut nyasar.
(Berjumpa dengan Mak Hiday, muridnya, dan Kazumi di Bandung. Beberapa minggu setelah Mak Hiday keliling Eropa)

Kabar terbaru Mak Bangsa ini sedang merintis taman baca, forum belajar English for Writers, merampungkan 7 buku solo, menerbitkan antologi beberapa komunitas, mencari beasiswa S3 ke luar negeri, dan terakhir menjalankan program pelatihan menulis sampai terbit buku yaitu "Nulis Aja"

Dulu saya sempat bergabung sebagai perintis "Nulis Aja" namun karena saat itu masih unyu dan sibuk skripsi, Mak Hiday menyarankan saya fokus skripsi dulu. Sempat diajak gabung lagi, eh saya sedang sibuk tesis kali ini.

Setelah tesis beres, mudah-mudahan bisa berkolaborasi dengan Emak Bangsa yang satu ini guna mengwujudkan Indonesia yang lebih baik, kok kaya kampanye yah ? nggak apa-apa deh. Anggap saja saya sedang berkampanye tentang daya juang Mak Hiday terhadap mimpi-mimpinya ke anak-anak muda.

Sebagai penutup tulisan ini, saya punya sebuah kata bijak yang saya temukan di sebuah dinding WC, entah WC di mana lupa.

"Untuk mendapatkan sesuatu yang belum pernah dimiliki, lakukanlah sesuatu yang belum pernah dilakukan."

Rasanya Mak Hiday sudah melakukan apa yang tertulis dalam kata bijak itu.

Thursday, January 10, 2019

3 Hari di Surabaya, 3 Kali dibentak

4:47 PM 4
Sudah 3 hari di ibukota Jawa timur, Surabaya. Di kota pahlawan ini belajar tentang sebuah ketegasan. Baru 3 hari sudah 3 kali dibentak bapak-bapak.


Pertama, ketika menanyakan perihal check in ke pegawai hotel. Entah saya yang terlalu bawel karena berapa kali menanyakan sesuatu, bapaknya ngegas dong hihi.

Kedua, ketika saya menyewa motor. Masnya bilang pembayaran via transfer padahal posisinya sedang bertatap muka. Saya mengulangi pertanyaan "Selain transfer bisa Mas," dengan nada lembut dan menggemaskan. Masnya setengah teriak "Transfer aja !"

Ketiga, ketika lewat sebuah gang di siang hari. Ada sebuah plang berbahasa Jawa, saya cuek saja melewati gang itu dengan motor. Tetiba ada bapak-bapak berkumis marah sambil menunjuk saya dalam bahasa Jawa.

Kaget dong, dosa apa yang telah saya perbuat. Saya jawab dengan "Nggih Pak, Nggih Pak,"
eh bapaknya makin marah lalu saya bilang "Saya tidak mengerti bahasa Jawa."

"dari mana kamu ?," masih dengan raut wajah seram seakan saya mau ditelan.

"Bandung, Pak" bapaknya melanjutkan memarahi saya dengan bahasa Indonesia. Saya minta maaf. Intinya lewat gang itu harus di dorong motornya. Saya beberapa kali minta maaf, akhirnya marah bapak itu reda. Sambil mendorong motor, saya memberikan senyum termanis saya.

Meskipun saya sering kena marah, tapi sejujurnya mereka itu baik. Contohnya Kak Sakifah Ismail, orang Jawa timur yang menjemput saya ketika di Jogja. Cak Heru Sang Mahadewa, penulis sejarah yang kemarin malam mengantar saya keliling Surabaya walaupun baru pulang kerja sorenya.

Berfoto dengan mode hormat di Tugu Pahlawan.

Wisata Malam di Surabaya Bersama 2 Pendekar

11:06 AM 8
Sudah tiga hari di Surabaya, tidak ada tujuan yang jelas sebenarnya. Saya ke sini hanya berusaha "menjadikan nyata" lagu ke Bandung Surabaya. Detail perjalanan dari Bandung ke Surabaya akan ditulis secara rinci setelah pulang ke Bandung.


Sesampainya di Surabaya, saya menghubungi teman ODOP (Komunitas Menulis) beliau bernama Cak Heru, penulis genre sejarah bahkan mistis. Bertolak belakang dengan tulisan saya yang lucu-lucuan. Tulisan Cak Heru menyoroti sisi sejarah khususnya sejarah tanah Jawa.
berikut blognya : http://dloverheruwidayanto.blogspot.com/?m=1.

Mas Heru siap menemani saya berkeliling Surabaya ditemani Daeng Rusdi (Teman satu komunitas menulis asal Makassar yang bekerja di Surabaya). Kami menyesuaikan jadwal dan akhirnya ditentukanlah malam hari untuk berkeliling Surabaya, berasa seperti artis duh padahal selama di Surabaya saya hanya makan dan tidur di hotel saja, mager banget karena cuaca siang di kota pahlawan ini hots banget.

Sore menjelang, saya kabari Cak Heru untuk bertemu di Hotel. Kebetulan saat itu dalam posisi pulang menuju hotel karena sebelumnya ke Pantai Kenjeran dulu. Nah momen di pantai Kenjeran akan saya tulis terpisah karena di sana indah banget duh, harus rinci ditulisnya.

Bak anak gadis, saya dijemput Cak Heru dan Daeng Rusdi, bergegas membawa helm. Kebetulan selama di Surabaya saya mengajak adik saya.

1. Masjid dan Makam Sunan Ampel
Kiri ke Kanan (Cak Heru, saya, Daeng Rusdi)
(Karena wilayah makam tidak diperkenankan mengambil foto hanya bisa mengabadikan ini.)

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Masjid dan makam Sunan Ampel. Menurut penurutan Mas Heru, Sunan Ampel erat kaitannya dengan Kerajaan Majapahit sekaligus Sunan pertama di antara Wali Songo lainnya. Saya hanya ngangguk-ngangguk saja, serasa belajar sejarah dengan versi real. Di Masjid Ampel penuh sesak dengan para penziarah sekalipun sudah menunjukan pukul 9 malam.

Keramaian tidak hanya terpusat di masjid, tetapi jalan menuju masjid juga penuh sesak dengan pedagang, dari yang dagang pernak-pernik hingga berdagang batu akik. Nah selama di sini saya sempat meminum air di dekat makam Sunan Ampel. Air ini sudah sejak lama ada, banyak pengunjung dari luar kota yang memasukan air ke dalam botol.

2. Jalan Hits Tunjungan


Setelah wisata rohani di Masjid dan makam Sunan Ampel, kami menuju tempat terhits di pusat kota Surabaya. Jalan Tunjungan, jalan ini adalah tempat terjadinya peristiwa 10 November yang kita peringati bersama sebagai hari pahlawan. Uniknya jalan ini pula yang sempat viral dengan "bunga sakuranya" beberapa bulan yang lalu.

"Sebenarnya bukan bunga sakura, tepatnya bunga tatebuya," nambah Mas Heru saat itu.

Saya ngangguk lagi, persis anak metal deh yang suka angguk-angguk mulu. Hanya saja saya tidak memakai kalung rantai.

Benar saja jalan Tunjungan indah banget dengan pernak-pernik lampu yang menyala.

3. Hotel Majapahit.


Hotel ini merupakan hotel yang menjadi saksi sejarah di saat perjuangan kemerdekaan di Surabaya. Dulunya hotel ini bernama Hotel Yamato. Hotel yang termasuk jajaran hotel tertua di Indonesia ini menjadi saksi perjuangan pemuda Indonesia melawan Belanda dan sekutu.

Setelah gagalnya perundingan Sudirman, terjadilah "perang" dan momen puncaknya ialah perobekan warna biru dari bendera Belanda sehingga hanya meninggalkan warna merah putih, itulah simbol sang saka Indonesia. Berada di sana seolah menumbuhkan kembali rasa nasionalisme saya. Begitu beratnya merebut kemerdekaan.

4. Arca Joko Dolog


Beranjak dari Hotel Majahapit. Kami memasuki sebuah tempat bernama Arca Joko Dolog. Pertama masuk sudah tercium bau kemenyan dan dupa. Duh hawa-hawanya akan wisata mistis nih. Memang suasana di sini aga menyeramkan karena selain sudah hampir tengah malam. Pohon besar yang merambat disertai arca-arca menambah sensasi berbeda.

Saya bertanya ke Cak Heru, "Joko Dolog itu siapa ? " dengan gesit Cak Heru menjawab. Saya simpulkan saja deh pada tulisan ini

Joko Dolog adalah sebuah patung di kota Surabaya warisan Kerajaan Majapahit. Tapi menurut cerita rakyat daerah Jawa Timur. Joko Dolog merupakan sebuah patung yang konon merupakan penjelmaan dari tubuh Pangeran Jaka Taruna putra adipati Kediri. Menurut cerita, Jaka Taruna ingin mempersunting Purbawati, putri Adipati Jayengrana. Adipati Jayengrana merupakan adipati Surabaya. Tapi Jaka Taruna kalah bertarung melawan Pangeran Situbondo dan juga Jaka Jumput hingga akhirnya berubah menjadi patung.

Selama di sini. saya sok berani mengajak Cak Heru ke rumah Darmo. Lokasi paling seram di Surabaya, Cak Heru menolak katanya kalau ke sana harus full team. Makhluk yang di sana suka keroyokan. Duh berasa anak STM.

5. Makan Santai

(Karena tidak sempat memotret ketika sedang makan ditampilkan foto menunggu makanan)

Tempat terakhir yaitu makan dong, karena sudah berkeliling dari wisata rohani, sejarah bahkan mistis. By the way judulnya 2 pendekar tapi ke mana Daeng Rusdi. Nah Daeng Rusdi posisinya seperti saya hanya angguk-angguk juga mendengar pemaparan Cak Heru. Kami memesan nasi goreng dan es teh jeruk, nikmat banget pokoknya. Terakhir saya dan adik diantar Cak Heru dan Daeng Rusdi kembali ke hotel.

Pokoknya saat itu kami berasa menjadi anak gadis jelita yang pergi dan pulang di antar. Terkhusus untuk Cak Heru dan Daeng Rusdi, terimakasih banget. Penghargaan kota terpopuler di ajang Guangzhou Internasional Award 2018 yang baru di sandang Surabaya ternyata memang dapat dibuktikan, Surabaya sangat memesona di dalam hari.

Wednesday, January 9, 2019

Apa Saja yang Bisa Dibeli dengan Uang 80 Juta ?

12:26 AM 8
Sudah beberapa hari ini pembahasan uang 80 juta menjadi trending topik di Indonesia. Tentu saja tidak perlu dijelaskan lagi apa yang menjadi penyebab hal tersebut menjadi pembahasan hangat. Nah, kali ini saya mencoba membuat rangkuman subjektif apa saja yang bisa dibeli dengan uang 80 juta, tentu hal bermanfaat dong.

1. Bisa Memiliki Rumah

(Sumber gambar detik.com)

80 juta bisa membeli rumah ? tentu saja bisa asalkan jangan di daerah perkotaan besar. Di daerah pinggiran kota atau pedesaan untuk mencari rumah dengan harga 80 juta bukan sesuatu yang sulit. Hitung-hitung investasi agar terhindar dari rumah mertua indah, nggak bebaskan jika hidup bersama mertua ? teman-teman tidak bisa menjemur baju di microwave 😎 dan mendengarkan lagu dangdut dengan volume full.

2. Jalan-Jalan Keliling Eropa
(Sumber gambar enjoy.wisata.com)

Ada yang punya cita-cita berfoto selfie dekat menara eiffel ? atau menunggangi banteng di Spanyol, apapun yang berhubungan dengan Benua Biru bisa dilakukan dengan uang 80 juta. Berdasarkan hasil googling yang saya lakukan. Tiket Jakarta- Eropa PP sekitar 15 juta, pengurusan visa 1,5 juta. Hostel di AirBnB sekitar 500 rb/malam. Sisa banyak untuk keliling Eropa.

Selain ketika pulang punya banyak oleh-oleh berupa cerita dan ribuan foto selfie. Teman-teman juga bisa bergaya ala Syahrini lalu mengupload ke Instagram, nah siapa tahu followersnya jadi ratusan ribu, sehingga banyak job iklan pemutih kulit dan peninggi badan 😅.

3. Beli Instrumen Investasi
(Sumber gambar blog.valbury.co.id)

Jika teman-teman tipe hemat bahkan saking hematnya beli beras saja sebutir, bisa dicoba membeli instrumen investasi berbentuk reksadana dan emas. Apa itu reksadana ? bisa cari di google. Uang yang disimpan di reksadana bisa menghasilkan setidaknya 7-10 % tahun. Lumayankan setiap tahun menghasilkan 800 rb secara cuma-cuma. Kalau mau lebih "jadul" bisa membeli emas dan biasanya nilai emas selalu meningkat setiap tahun.

4. Membiayai Kuliah
(Sumber gambar Ruangmahasiswa.com)

80 juta bisa kuliah sampai lulus sarjana ? sangat bisa sekalipun memilih jurusan kedokteran, tinggal rajin-rajin cari info. Siapa tahu ada kuliah kedokteran yang sedang flash sale, eh. Bener ada apalagi sistem kuliah sekarang sudah pakai UKT (Uang Kuliah Tunggal) yang berlaku di Perguruan tinggi negeri, bayar sekali saja tiap semester tidak ada bayaran lainnya.

Lebih enaknya disesuaikan dengan tingkat ekonomi calon mahasiswa, asal jangan sering diremedial bisa deh 80 juta untuk memeroleh gelar sarjana, bahkan untuk beberapa jurusan 80 juta itu bisa sampai S2 loh. Hebatnya lagi kalau beli Samsung bisa sampai S9 dapat banyak lagi.

5. Makan Nasi Padang Selama 4 Tahun
(Sumber gambar Nibble.id)

Ada yang hobi banget makan nasi padang ? kalau ada teman-teman bisa menghabiskan uang 80 juta untuk makan nasi padang sehari 3 kali selama 4 tahun. Wow kan ? jika harga nasi padang 20 rb satu porsi (Diasumsikan 20 rb karena mengikuti kenaikan inflasi). 80 juta : 20 rb = 40000 porsi nasi padang. 4 rb porsi : 3 (jika kalian makan 3 kali sehari) = 1.333 hari lebih makan nasi padang ? obesitas, obesitas deh.

1333 hari itu berapa tahun ? sekitar 3,6 tahun. Kita genapkan saja jadi 4 tahun. Siapa tahu kan teman-teman dikasih diskon oleh penjual nasi padang. Masa sih makan nasi padang terus selama 4 tahun tidak dikasih diskon. Kalau kata Bang Oma "Terrlaaaluu"

Nah adakan cara menggunakan uang 80 juta secara lebih bijak daripada membeli sesuatu yang nikmatnya sesaat seperti yang sekarang hangat diberitakan.

Saturday, January 5, 2019

Jika Allah yang Meminta

10:41 AM 4
15 tahun yang lalu, saat itu aku masih berumur 9 tahun. Peristiwa tersebut sulit kulupa bahkan nyaris selalu teringat, ketika aku merindu mereka. Hanya doa yang bisa kupanjatkan semoga kita dapat bertemu dalam ridhanya Allah.

Namaku Hengki, kala itu bersama adikku Farel sedang bersiap-siap untuk mengaji. Ingin rasanya sesekali membolos mengaji karena seharian itu aku capek. Sempat ku utarakan niat untuk izin mengaji dengan alasan banyak PR sekolah. Tentu saja bapak marah, beliau berbicara dengan kalimat yang sulit kumengerti saat itu.

"Kita ini orang kampung, orang miskin pula. Bapak tidak malu, ketika orang-orang berkata keluarga kita miskin, tapi bapak sangat malu ketika kita dinilai Allah, kita miskin ilmu agama."

Aku hanya diam tak mengerti, saat terdiam ibu menghampiri dan menyuruh aku bersama adik siap-siap mengaji. Urusan PR sekolah ibu bersiap membantu.

Entah apa yang membuatku berat sekali meninggalkan rumah menuju masjid tempatku mengaji. Bukan karena jaraknya yang jauh, aku sudah terbiasa berjalan jauh. Rasanya ada rasa pilu hadir saat itu.

Aku menatap ibu dan bapak lamat-lamat, mereka sungguh orangtua terbaik di dunia. Mereka memang tak memberikan harta tapi ilmu kehidupan yang kelak akan membawa diri ini berpergian jauh.

"Farel, cepat." Menyuruh adikku cepat berlari, ada suara gemuruh seperti tanah longsor. Saat itu baru 30 menit sampai di masjid, tempatku mengaji.

"Fareeeel," bentakku keras. Ia saat itu baru berumur 6 tahun.

Bergegas kumenuju rumah, merasa sesuatu yang buruk terjadi. Benar saja, kampungku rata dengan tanah. Satu jam kuberkeliling mencari ibu dan bapak tapi nihil, mereka tidak ada.

Di akhir pencarian, aku melihat ibu tergeletak dihimpit tanah dan bebatuan. Aku bergegas menghampirinya, tapi seseorang dengan rompi kuning menangkapku.

"Minggir, Nak masih rawan longsor." Tubuhku ditangkap oleh orang itu, aku berontak sekuat tenaga namun sulit untuk lepas.

5 menit kemudian, longsoran tanah mengantam ibuku yang dihimpit batu. kala itu adalah senyum terakhirnya.


Saat itu aku sudah tak bisa menangis, rasanya akhir mataku habis. Begitu pula dengan Farel yang tak bisa bicara sepatah katapun.

Malam itu kejadian paling menyedihkan yang pernah diri ini alami.
Keesokan harinya aku mendengar kabar ibu dan bapak sudah tiada. Bergegas mengajak adikku melihat wajah terakhir pelindung kami di dunia.

Tetap masih tak bisa menangis, terlalu sakit untuk kehilangan mereka. Beberapa menit aku berada disamping kedua jasad ibu dan bapak. Sebelum ada pasangan suami istri menghampiri kami. Mereka dihormati seluruh warga kampungku yang selamat. Saat itu tidak peduli, yang aku mau hanya ibu dan bapak.

15 tahun telah berlalu, sekarang aku melanjutkan S2 di Inggris, sementara adikku mengejar gelar sarjananya di Italia.

Mengenang peristiwa itu memang menyakitkan namun kesakitanlah yang menguatkanku selama ini.

Pasangan suami istri yang menyelamatkanku kala itu menelpon. Sejak peristiwa itu mereka mengangkat kami berdua sebagai anaknya. Mereka tak kalah baik dengan Ibu dan bapak kandungku.

Ibu dan bapak angkatku melakukan video call, mengabari bahwa seminggu lagi adalah pelantikan bapak angkatku sebagai Presiden Indonesia untuk kedua kalinya. Beliau menyuruhku untuk bergegas pulang.

Betul yang menjadikan kami anak angkat 15 tahun yang lalu adalah Gubernur Jawa Barat saat itu.


"Ibu, Bapak. Benar yang kalian kataku dulu. Jangan pernah menyalahkan Allah atas semua kesedihan yang kita terima. Pada dasarnya segala hal milik Allah, Ia berhak mengambil kapan saja sesuatu yang menjadi miliknya. Kita harus yakin bahwa Allah akan menggantikan yang Ia ambil dengan sesuatu yang luarbiasa."

Catatan : Cerpen ini terinspirasi dari kisah Hengki dan Farel yang kehilangan kedua orangtuanya karena longsor yang terjadi di Sukabumi. Sekarang mereka menjadi anak angkat Kang Emil.

Sumber foto diambil dari Instagram @RidwanKamil dan Detik.com

Friday, January 4, 2019

Blibli, Ahli Perlengkapan Bayi

8:53 AM 5
Tahun baru menjadi momentum bagi seseorang untuk melakukan hal terbaik guna mewujudkan apa yang menjadi resolusinya di tahun baru 2019. Setiap orang tentu punya resolusi yang berbeda tahun ini. Bagi jomblo ingin segera menikah, bagi pasangan baru ingin segera memeroleh anak yang menggemaskan.

Tentu segala hal harus direncanakan agar segera terealisasi dengan baik, begitupun bagi pasangan muda yang sebentar lagi akan mempunyai buah cinta. Segala hal berkaitan dengan kesehatan ibu dan kelahiran sang bayi harus diperhatikan.

Perihal rumah sakit mana yang akan dipilih hingga perlengkapan apa saja yang diperlukan untuk si kecil ketika sudah lahir.
Terkadang seorang calon ayah harus mempersiapkan itu semua. Bingungkan di mana mencarinya ? ukuran apa ? terus kegunaan produk bayi itu untuk apa ?

Jangan sampai karena saking pusingnya calon ayah salah beli, duh sayang uang dong kalau barang yang dibeli mubazir seperti itu. Solusinya apa ? Di era teknologi beli perlengkapan bayi tidak harus memutari seisi mall atau pasar untuk mencari toko perlengkapan bayi terbaik, hanya tinggal klik dan klik kemudian bayar, barang yang dibutuhkan agar sampai di rumah.


Sumber gambar dari situs Blibli.com

"Tapikan banyak sekali marketplace di Indonesia, takut barang yang dipesan tidak sesuai," jangan takut, Blibli.com menjadi solusi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan calon ayah dan ibu muda untuk memenuhi perlengkapan si kecil.

Blibli menjadi marketplace terpercaya dengan berbagai macam fitur seperti deskripsi produk yang sesuai dengan yang dijual, pengembalian barang jika diketemukan kecacatan, dan hal yang paling luarbiasa Blibli.com juga menawarkan gratis ongkir senilai 50 rb untuk setiap pembelian berkisar 75 rb hingga 199 rb. Hebatnya lagi itu berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia.

"Kalau beli barang di atas 200 rb, gratis ongkirnya makin besar nggak ? " tentu saja, untuk pembelian di atas 200 rb hingga 999 rb dapat gratis ongkir senilai 100 rb, wow bukan ? masih ada lagi untuk pembelian di atas 1 juta gratis ongkirnya senilai 200 rb.

So, jangan takut untuk beli perlengkapan bayi atau kebutuhan lainnya di Blibli.com Produk yang tersedia juga beragam dari kebutuhan ibu hamil, baju bayi segala model, peralatan bayi, makanan sehatnya hingga kereta bayi mewah dengan harga murah.

                         
Sumber gambar dari situs Blibli.com

Selain menawarkan gratis ongkir untuk seluruh wilayah Indonesia, Blibli juga menawarkan cicilan dengan bunga 0 % jadi jauh dari yang namanya riba. Ketika Ibu dan ayah belum gajihan, tetapi si kecil membutuhkan kereta bayi bisa menggunakan fitur cicilan tersebut.

                              
 Sumber gambar dari situs Blibli.com

"Bagaimana cara bayarnya ?" tenang, Blibli menawarkan beragam cara pembayaran, bahkan bisa bayar di rumah ketika barang datang. Asyik nggak tuh ?

Blibli.com memudahkan teman-teman melakukan transaksi dengan menyediakan berbagai macam metode pembayaran yang praktis dan mudah, di antaranya:

1. Bayar di tempat (COD)

2. Internet Banking

3. Kartu Debit/Kredit

4. Cicilan 0% dan Cicilan Tanpa Kartu Kredit

5. Transfer (ATM atau Non ATM)

6. Uang elektronik (XL Tunai, Sakuku, atau Mandiri E-Cash)

7. Bayar di toko (Indomaret atau Pospay)

Masih ragu belanja perlengkapan bayi dan kebutuhan lainnya di Blibli.com ? bisa cek dulu respons pelanggan setelah menerima barang yang dibeli dari Blibli.com, dan hasilnya kebanyakan dari pelangganBlibli.commerasa puas bahkan ketagihan belanja hehe.

Persiapkan perlengkapan terbaik untuk si kecil dengan cara berkunjung dan berbelanja di Blibli. Selain bisa berbelanja di websitenya Blibli.com, teman-teman juga bisa unduh aplikasi Blibli di Playstore dan dapatkan selalu notifikasi promonya.

Sssst saya punya rahasia, untuk perlengkapan bayi awal tahun ini Blibli.com mengadakan diskon hingga 70 %.

Belanja di toko perlengkapan bayi Blibli.com aja.