Nychken Gilang's Story

Friday, January 18, 2019

Perjalanan Menulis, Dari Coretan Meja Hingga Jurnal

6:21 AM 6
Sejak SD saya sudah suka menulis, kala itu sering sekali menulis di meja sekolah. Meja sekolah seperti tempat berekspresi paling nyaman. Sekarang baru sadar bahwa itu adalah sebuah Vandalisme.

Waktu kecil jangankan mengerti vandalisme, pakai sampai sendal swallow saja yang putus terus diakali menyambungkannya dengan paku. Menyedihkan deh.

Setelah menulis di meja, karir menulis saya melesat. Kali ini mencoba menulis di kertas bekas bungkus gorengan, entah kenapa tulisan ini jadi berminyak. Rasanya harus pakai pelembab.

SMP kelas 2,  baru punya HP. Sering banget ngeSMS semua teman di kontak dengan puisi buatan sendiri. Maklum saat itu kalau kirim SMS 5 kali, gratis SMS seharian. Lumayan daripada mubazir.

Menginjak SMA, memulai membuat blog. Tentu blog gratisan terhits yaitu blogspot. Masa itu merasa keren banget. Meski menulisnya sesekali karena terkendala kuota internet.

Momen SMA sedang ngehits banget Facebook. Hasrat menulis saya disalurkan di sana. Sama seperti saat SMP, saya coba menandai banyak orang di status "puisi" Facebook yang saya buat.

Menginjak semester awal kuliah, baru pertama punya HP android yang memiliki aplikasi BBM, telat memang. Saya bukan anak hits yang sempat punya Blackberry. Di BBM juga sering melakukan Broadcast Message (BC) ke setiap kontak. Beberapa hari melakukan itu baru sadar, saya alay banget.

Agar tidak dicap alay, saya mulai menulis di blog lagi, sesekali mengirim tulisan ke media seperti pikiran rakyat. Beberapa kali di muat, lebih sering tidak. Sempat juga menulis di media online sebagai kontributor.
                 Tulisan di Pikiran rakyat

Hipwee.com menjadi salah satu media tempat saya menulis. Dulu Hipwee belum sebesar sekarang, fanspage faceboknya baru ribuan yang like. Sekarang sudah sampai sejuta. 5 atau 6 tulisan saya abadi di sana, kalau tidak salah pembacanya sudah ribuan.
                 Tulisan di Hipwee.com

Duh jadi malu, tulisan saya di hipwee masih ancur. Sekarang sih sedikit mendingan, setidaknya tidak membuat mual yang membaca.

Sembari menulis di hipwee, saya sering ikut lomba penulisan online. Beberapa berhasil juara dan dibukukan, senang banget. Karena selain dapat hadiah dan sertifikat, dapat juga buku terbitan. Beberapa buku berhasil saya koleksi sekarang, tidak banyak tetapi lumayan untuk jejak sejarah.
                  Karya Antologi dan Solo

Menjelang semester akhir, mencoba menulis novel meski sering mandeg di tengah jalan. Pada suatu waktu, saya tergabung dengan ODOP (grup kepenulisan) di sana bertemu juga dengan Ciani Limaran.

Kami mengobrol hingga pada kesimpulan ingin membuat novel dengan 2 sudut pandang. Singkat cerita jadilah novel itu, sudah tahukan novelnya apa ? yap "Menuntaskan Rindu"

     Novel pertama "Menuntaskan Rindu"

Di ODOP juga menulis banyak antologi lainnya. Dengan teman kuliah sempat menulis kumpulan sastra berjudul "Gado-gado sastra. Dengan teman di saat S2 : Teh Mutiara, menulis antologi puisi "Bukan Sekadar Kata Mutiara"
                        Antologi Puisi

Di S2 juga berlatih menulis jurnal ilmiah, di beberapa universitas di muat dalam bentuk jurnal online dan prosiding. Asalnya penulis alay jadi penulis ilmiah. Aga jauh sih.
              Di saat penjadi pemakalah

Sekarang mulai menulis lagi di blog, bedanya sekarang berdomain agar terlihat keren dan menghasilkan eh. Sebenarnya saya punya 2 blog.

Pertama Nychken.web.id, di sini saya menulis apa saja dari keseharian hingga kisah travelling ke beberapa sudut Pulau Jawa, semoga bisa menulis cerita perjalanan ke sudut lain Indonesia atau bahkan dunia. Cita-cita banget deh.

Satunya lagi Agilang.id . Di sini saya menyalurkan hobi menulis info-info menarik dan percintaan ala hipwee. Blognya masih anget banget. Kunjungi yah.

Baru sampai sinilah perjalanan menulis saya, tentu ingin lebih "menjelajah" lagi dan makin banyak menyebar manfaat lewat tulisan. Semoga menjadi pemberat pahala kelak.

Thursday, January 17, 2019

Hal Mengerikan di Balik Fenomena 10 Years Challenge

7:16 AM 6
Cukup mengerikan judulnya ? hehe
entah dari mana di mulai 10 years challenge tetiba menyeruak begitu saja.

Mungkin karena datangnya tahun baru 2019 sehingga orang-orang membandingkan dirinya sendiri dengan 10 tahun sebelumnya.

Sebenarnya tak salah melalukan perbandingan tersebut. Namanya juga manusia selalu ingin terlihat lebih baik dari tahun ke tahun, begitulah saya ingin kelihatan lebih tampan dan memesona, namun apa daya lingkar perut semakin membesar.

Meski kebanyakan yang dibandingkan dalam 10 years challenge hanya sebatas fisik saja, tentu fisik dan penampilan akan berubah sesuai dengan isi dompet, semakin tebal dompet semakin dimungkinkan melakukan berbagai perawatan diri

Saya juga ikut-ikutan dong membandingkan diri ini dengan 24 tahun yang lalu, ketika masih berupa sperma. Makin membesar deh sepertinya saya.
10 years challenge memang sebatas seru-seruan saja, tapi jika yang dibandingkan bukan hanya sebatas fisik akan lebih jleb.

Misalkan 10 tahun lalu hafal berapa surat Al-Quran, apakah sekarang masih sama ?

10 tahun lalu belum punya karya, apakah sekarang sudah punya karya ?

10 tahun lalu masih malas menulis dan membaca, apakah sekarang masih sama ?

10 tahun lalu masih jomblo, apakah sekarang masih sama ? 

Wednesday, January 16, 2019

3 Penilaian Masyarakat Tentang Jurusan Bahasa Indonesia

6:30 AM 7
Kuliah di Jurusan Pendidikan bahasa Indonesia atau Sastra Indonesia tidak sefavorit jurusan kedokteran. Tak jarang orang sekitar kita mempertanyakan.

"Mengapa mengambil jurusan Bahasa Indonesia, padahalkan sudah bisa bahasa Indonesia ?" sakit nggak tuh dikatain begitu. Padahal yang dipelajari di Jurusan Bahasa Indonesia tak hanya itu.

Berikut 3 hal mitos yang sering masyarakat "cap" ke mahasiswa yang mengambil jurusan Bahasa Indonesia.

1. Kuliahnya santai paling menganalisis novel saja.

                             Bernad.id

Memang ada mata kuliah yang menugaskan mahasiswa membaca dan menganalisis novel, tapi tidak setiap hari juga. Menganalisis novel pun bukan perkara mudah, perlu kejelian luarbiasa.

Kuliah kami sangat tidak santai, ketika S1 dulu beberapa malam harus begadang untuk mengerjakan tugas. Mengedit naskah, membuat cover buku, belajar periodisasi sastra, kritik sastra, latihan pementasan drama, untuk jurusan pendidikan ditambah mata kuliah pendidikan yang tak kalah menguras tenaga.

2. Anak Bahasa Indonesia kaku, berbicara harus pakai bahasa baku.

                    Gelombangotak.com

Eh wasaaap my friends, nggak gitu juga kali. Anak Jurusan bahasa Indonesia malah asyik banget kalau diajak ngobrol, karena di jurusan bahasa Indonesia tidak melulu belajar EBI (Ejaan Bahasa Indonesia).

Penggunaan EBI pun ada situasi dan kondisinya tersendiri. Nggak mungkin dong ketika membeli sayur di pasar memakai bahasa baku.

"Bu, kalau ibu berkenan izinkan saya membeli sayur ini. Menurut ibu kira-kira berapakah harga sayur ini ?"

Nah, dialog di atas tidak pernah terjadi. Kalau pun terjadi kami sudah digetok ibu-ibu dong karena lama.

Anak Bahasa Indonesia asyik diajak mengobrol karena ada mata kuliah "Berbicara" bahkan hingga 2 kali, selain itu ada lagi mata kuliah "Retorika", seni yang mempelajari berbicara yang mengasyikan.

Pengetahuan juga luas karena diwajibkan membaca, asyik nggak tuh. Kalau ngobrol dengan anak jurusan bahasa Indonesia bisa dari A ke Z, bikin nyaman deh haha.

3. Sudah lulus mau kerja apa ?

                         Temankita.com

Sering sekali saya ditanya dengan pertanyaan seperti ini.

"Jurusan Pendidikan/Sastra Indonesia sudah lulus mau jadi apa ?"

Saya jawab mau jadi pilot, takut dijitak. Lulusan Bahasa Indonesia bisa menjadi apapun, jadi Imam yang baik juga bisa.
Prospek jurusan Bahasa Indonesia bisa mengisi banyak ranah pekerjaan misalkan jadi Guru, editor, penulis, ahli bahasa, bekerja kementrian luar negeri, pembawa acara dan banyak lagi deh cape ngetik hehe.

Intinya jurusan bahasa Indonesia bisa bekerja di segala bidang yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat utamanya. Banyak bangetkan pekerjaan yang memerlukan keterampilan berbahasa Indonesia yang baik.

Yap, tidak semua pandangan masyarakat tentang jurusan Bahasa/sastra Indonesia itu benar. Anak Bahasa Indonesia juga bisa kok menjadi menantu idaman, dengan segala keunikannya.

Tuesday, January 15, 2019

3 Hal yang Dirasa Ketika Teman Nikah Duluan

6:27 AM 5
Manusia, sejatinya makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Misalnya ketika nggak punya uang bisa ngutang kepada teman, eh. Sekuat apapun manusia tak bisa hidup sendirian, itulah yang dialami Nabi Adam.

Dalam perjalanan sebagai makhluk sosial, ada fase di mana membutuhkan pasangan hidup, lalu menikah.Manusia menganggap pernikahan sebagai tahapan kehidupan lanjutan, selain sudah memiliki pasangan, obat dari sepi. Setidaknya kalau sudah menikah tidak perlu berpikir memiliki keturunan dengan cara membelah diri.

Lalu, apa yang dirasa ketika teman terdekat menikah duluan. Sementara kita masih ke mana-mana sendirian.

1. Bahagia

diataspelangi.com

Tentu, melihat teman terdekat menikah yang dirasa pertama ialah bahagia. Teman SMA yang dulu ketika bertemu teman lawan jenis harus bersembunyi di meja, sekarang akhirnya menikah.

Selain itu, kita berbahagia karena di undangan pernikahan bisa bertemu mantan, eh maksudnya teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak berjumpa. Mengobrol tentang kehidupan masa lalu yang begitu berkesan.

Kita juga bisa makan sepuasnya di pernikahan teman, tentu kalau tidak punya rasa malu makanan itu bisa sekalian dibawa pulang ke rumah. Lumayan untuk stock makan beberapa hari ke depan.

2. Sedih.

                      Karyapemuda.com

Selain bahagia, hal yang bertolak belakang yang dirasa yaitu sedih. Sedih bukan karena hanya kita yang tersisa sebagai jomblo satu-satunya, meskipun itu benar. Sedih karena ternyata waktu berjalan begitu cepat.

Teman yang dulu kita sangka tidak akan menikah, karena dengan segala ke anti mainstreamnya dan kekocaknya ternyata kini sudah mempunyai pasangan hiduo, bahkan ada beberapa yang sudah punya anak.

Seolah mereka sudah berlari, memulai kehidupam barunya, tetapi kita masih jalan di tempat memakai alat treadmill.

3. Khawatir

                           lintassorgz.com

lama kelamaan teman-teman yang dimiliki semakin berkurang, bukan karena mereka sudah tiada. Tapi sibuk dengan kehidupan barunya. Jarang teman yang mau diajak nonton bioskop.

Mereka lebih memilih mengurus bayinya. Kalau bayinya diajak nonton bioskop juga kan sayang uangnya, bayi itu belum mengerti betapa romantisnya adegan mengusap kepala.

Terkadang terbersit rasa khawatir, apa jodoh kita belum lahir. Kok yang lain cepat banget menemukan pasangan. Apakah mereka menggosok ale-ale lalu mendapatkan hadiah jodoh ?

Rasa khawatir wajar hadir, namun rasanya tak perlu berlebihan. Toh menikah bukan perkara siapa duluan, tapi perkara siap atau tidak.

Sunday, January 13, 2019

5 Tips Agar Hidup Bahagia

10:41 PM 7
Setiap manusia pasti ingin bahagia, jarang ada orang yang menolak bahagia. Ada sih beberapa orang dalam sinetron yang menikmati ketika disiksa. Buktinya walau sudah dipukul, disiram air keras, dijilat bahkan dicelupin (eh ini kok berasa iklan) tetap saja tinggal di tempat itu.

Kali ini saya mencoba berbagi tips bahagia,

"eh kamu udah bahagia gitu ?"

Berusaha bahagia dong, kan hidup di dunia cuma sekali kalau dipakai berduka sayang dong. Tanpa basa-basi berikut tipsnya.

1. Jangan iri bila orang lain lebih sukses.

Sumber gambar Humairoh.com

Pernah nggak sih merasa iri terhadap pencapaian orang lain ? pasti pernah dong, rasanya bagaimana ? sakitkan. Padahal waktu sekolah atau kuliah si dia itu tukang nyontek tugas kita, eh tapi nasibnya jauh lebih baik daripada kita.

Jangan iri dong, sebaiknya ucapkan selamat atas pencapaian yang dia dapat, meski awalnya berat, tetapi ketika sudah diucapkan akan terasa lebih baik. Daripada menyimpan iri dan mendoakan dia mengalami kejadian yang tidak baik, selain itu berdosa. Setiap doa dan tindakan yang baik akan kembali lagi kepada kita. begitupun sebaliknya.

2. Jangan terlalu banyak mengeluh

Sumber gambar imgrumweb.com

Punya masalah sedikit langsung update di media sosial, marah ke seseorang ngasih kode di media sosial. Seolah media sosial itu "tempat sampah" yang menampung berbagai keluhan kita.

Cara terbaik mengatasi masalah, yah mencari solusi. Kalau update keluhan mulu malah makin nyesek dong. Si mantan bisa bahagia tuh melihat kita menderita. Dalam hati si mantan bekata

"Siapa suruh nggak jadi dengan aku, jadinya menderitakan,"

Tahu ngga sih ? mengeluh itu tanda tak tangguh.

Yuk kurangi berkeluh kesah kalaupun mau berkeluh ada tempat yang lebih pas ialah kepada pemilik raga.

3. Jangan terlalu fokus mengejar materi

Sumber gambar triplesda.blogspot.com

Uang memang bisa membeli apapun kecuali kebahagiaan. Pernah dengar nggak kisah seorang perempuan kaya raya tapi tidak pernah dikarunia anak, bahkan suaminya juga meninggal.

Apa dia bahagia dengan tumpukan uang yang dimilikinya ?
mungkin menurut dia lebih bahagia makan nasi padang pinggir jalan bersama keluarga daripada makan di restoran bintang 5 hanya seorang diri.

Benar kata lagu "Keluarga Cemara"

"Harta yang paling berharga adalah keluarga, mutiara tiada tara adalah keluarga, puisi yang paling bermakna adalah keluarga, istana yang paling indah adalah keluarga" geboy Mang.

4.Jangan memorsir diri untuk bekerja, sesekali lakukan hobi

sumber gambar travelingyuk.com

Adakah di sini yang setiap hari kerja tanpa liburan ? duh kasihan, kaya kagak stress iya. Eh maaf. Bagus loh bekerja dengan giat tapi tidak baik juga jika terlalu giat.

Banyak kejadian di Jepang, saking rajinnya orang Jepang bekerja hingga banyak yang meninggal di tempat kerja. Kan fungsinya bekerja itu cari uang, uang itu untuk memenuhi kehidupan hidup. Kalau bekerja mulu kebutuhan liburan nggak ada dong.

Sesekali ambil cuti, pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi atau bisa juga lakukanlah hobi kalian. Hobi menulis, main piano, hobi stalking mantan eh. Lakukan hobi agar hidup tetap waras.

Sisihkan waktu untuk melakukan hobi.
"Kalau hobinya bekerja gimana hayo ?" eh emang ada yang hobi bekerja, kalau hobi dikerjain ada hehe

5. Mendekatkan diri kepada Tuhan.

Sumber gambar Fauzinesia.com

Manusia tidak semata hanya memenuhi kebutuhan jasmani, ada kebutuhan rohani yang harus diisi. Luangkan waktu untuk belajar ilmu agama, toh hidup tidak selamanya urusan duniawi.

Di dunia ini hanya sementara, jika menyentuh umur 70 tahun itu sudah pencapaian luarbiasa. Sisanya akan kita habiskan di alam kekal nanti.

Kelak agar bahagia dunia akhirat, mempersiapkan bekal mulai dari sekarang. Seringlah membantu oranglain, tersenyum, jauhi rasa iri dan dengki karena itu membuat hidup yang sesaat jadi tidak bahagia.

Yuk bahagia meski isi dompet tinggal Kapten Pattimura.

Saturday, January 12, 2019

Perjumpaan dengan Emak Bangsa

12:20 AM 11
Nama saya Nychken Gilang, biasanya dipanggil sayang oleh Ibu sendiri. Saat ini masih berstatus belum menikah tapi sudah punya banyak anak. Iya, saya seorang guru bahasa Indonesia di sebuah SMK, selain mengajar juga masih berkuliah S2 Pendidikan Bahasa Indonesia, pokoknya tak kalah "Indonesia" dari Indomie.

Entah kebetulan atau kebutuhan hobi saya menulis, dari mulai menulis di tembok WC hingga menulis novel. Uniknya di novel "Menuntaskan Rindu" yang membuat saya beberapa kali dipanggil KPK, eh maksudnya dipanggil mengisi acara pelatihan menulis. Di cover depan novel "Menuntaskan Rindu" Ada sebuah endorsement dari seseorang yang akan saya bahas setajam lirikan mantan pada tulisan kali ini.

Sosoknya bernama Hiday Nur atau saya biasa memanggil dengan sebutan "Mak Hiday" nah berkaitan dengan judul tulisan ini "Perjumpaan dengan Emak Bangsa" kenapa saya melabeli Mak Hiday sebagai Emak Bangsa ? sederhana sebenarnya, tak terlepas dari upaya untuk menyatukan Indonesia, ada Paslon yang melabeli kaum ibu dengan sebutan "Emak-emak" Paslon lainnya menyebut "Ibu Bangsa" maka saya gabung deh jadi "Emak Bangsa"

Pertemuan saya dengan Emak Bangsa dimulai ketika tertarik dengan sebuah tulisan Mak Hiday tentang beasiswa LPDP. Kebetulan saya tergabung di komunitas ODOP, komunitas menulis yang mewajibkan anggotanya untuk menulis di blog setiap hari. Mak Hiday senior saya di sana.

Ketika Mak Hiday membagikan tulisan tentang beasiswa LPDP langsung saya lahap tuh tulisan, Emak Bangsa ini bercerita tentang prosesnya meraih beasiswa LPDP dari awal hingga jadi penerima. Saya yang notabennya senang gratisan, tertarik banget dengan beasiswa itu.

Berselang beberapa bulan terbitlah sebuah buku tentang tips meraih beasiswa LPDP yang ditulis Mak Hiday bersama penerima beasiswa lainnya, tak pikir panjang saya beli dong.

(Buku Mak Hiday bersanding dengan Menuntaskan Rindu) 

Balik lagi ke novel "Menuntaskan Rindu", ketika novel itu sudah rampung, saya mengumpulkan beberapa endorsement dari dosen, teman-teman komunitas, dan tentu Mak Hiday. Saya berpikir endorsement siapa yang ditaruh di depan cover novel ini. Dosen, ah ini bukan buku kuliah.

Saya berpikir sembari bertapa di kamar mandi, aha Mak Hiday saja. Selain Emak Bangsa ini dedengkot FLP Jatim, penerima beasiswa LPDP, dan juga suka menulis sastra.

Pilihan saya memasukan nama Mak Hiday di cover depan tepat, banyak teman yang menyangka ini buku tentang beasiswa LPDP karena saya memasukan itu dalam keterangan endorsement Mak Hiday. Saya jelaskan ini novel cinta, eh mereka masih teguh membeli, yowis lumayan buat makan nasi padang uangnya.

Banyak yang saya kagumi dari sosok Emak Bangsa ini, selain Mak Hiday punya 2 anak dan 1 suami yang lucu eh untuk suaminya saya belum kenalan lucu atau tidak. Yang jelas anaknya yang bernama "Kazumi" lucu banget jadi pengen punya tapi bisa nggak sih buatnya dari terigu aja.

Okey balik lagi, hal yang saya kagumi dari Mak Hiday itu gigih memperjuangkan mimpinya sekalipun sudah berkeluarga, saya yang jomblo saja kadang malas-malasan memperjuangkan mimpi.

Pernah suatu hari saya lihat Mak Hiday, di Jerman terus besoknya di Perancis, besoknya lagi di Belanda. Ini Emak punya kantong ajaib Doraemon kali. Kerennya lagi jalan-jalan ke Eropanya sendirian, saya aja yang pergi ke pasar masih bareng Mamak, takut nyasar.
(Berjumpa dengan Mak Hiday, muridnya, dan Kazumi di Bandung. Beberapa minggu setelah Mak Hiday keliling Eropa)

Kabar terbaru Mak Bangsa ini sedang merintis taman baca, forum belajar English for Writers, merampungkan 7 buku solo, menerbitkan antologi beberapa komunitas, mencari beasiswa S3 ke luar negeri, dan terakhir menjalankan program pelatihan menulis sampai terbit buku yaitu "Nulis Aja"

Dulu saya sempat bergabung sebagai perintis "Nulis Aja" namun karena saat itu masih unyu dan sibuk skripsi, Mak Hiday menyarankan saya fokus skripsi dulu. Sempat diajak gabung lagi, eh saya sedang sibuk tesis kali ini.

Setelah tesis beres, mudah-mudahan bisa berkolaborasi dengan Emak Bangsa yang satu ini guna mengwujudkan Indonesia yang lebih baik, kok kaya kampanye yah ? nggak apa-apa deh. Anggap saja saya sedang berkampanye tentang daya juang Mak Hiday terhadap mimpi-mimpinya ke anak-anak muda.

Sebagai penutup tulisan ini, saya punya sebuah kata bijak yang saya temukan di sebuah dinding WC, entah WC di mana lupa.

"Untuk mendapatkan sesuatu yang belum pernah dimiliki, lakukanlah sesuatu yang belum pernah dilakukan."

Rasanya Mak Hiday sudah melakukan apa yang tertulis dalam kata bijak itu.

Thursday, January 10, 2019

3 Hari di Surabaya, 3 Kali dibentak

4:47 PM 4
Sudah 3 hari di ibukota Jawa timur, Surabaya. Di kota pahlawan ini belajar tentang sebuah ketegasan. Baru 3 hari sudah 3 kali dibentak bapak-bapak.


Pertama, ketika menanyakan perihal check in ke pegawai hotel. Entah saya yang terlalu bawel karena berapa kali menanyakan sesuatu, bapaknya ngegas dong hihi.

Kedua, ketika saya menyewa motor. Masnya bilang pembayaran via transfer padahal posisinya sedang bertatap muka. Saya mengulangi pertanyaan "Selain transfer bisa Mas," dengan nada lembut dan menggemaskan. Masnya setengah teriak "Transfer aja !"

Ketiga, ketika lewat sebuah gang di siang hari. Ada sebuah plang berbahasa Jawa, saya cuek saja melewati gang itu dengan motor. Tetiba ada bapak-bapak berkumis marah sambil menunjuk saya dalam bahasa Jawa.

Kaget dong, dosa apa yang telah saya perbuat. Saya jawab dengan "Nggih Pak, Nggih Pak,"
eh bapaknya makin marah lalu saya bilang "Saya tidak mengerti bahasa Jawa."

"dari mana kamu ?," masih dengan raut wajah seram seakan saya mau ditelan.

"Bandung, Pak" bapaknya melanjutkan memarahi saya dengan bahasa Indonesia. Saya minta maaf. Intinya lewat gang itu harus di dorong motornya. Saya beberapa kali minta maaf, akhirnya marah bapak itu reda. Sambil mendorong motor, saya memberikan senyum termanis saya.

Meskipun saya sering kena marah, tapi sejujurnya mereka itu baik. Contohnya Kak Sakifah Ismail, orang Jawa timur yang menjemput saya ketika di Jogja. Cak Heru Sang Mahadewa, penulis sejarah yang kemarin malam mengantar saya keliling Surabaya walaupun baru pulang kerja sorenya.

Berfoto dengan mode hormat di Tugu Pahlawan.