Thursday, February 28, 2019

Semarang, Tempat Lahirnya Stasiun Tertua di Indonesia

9:20 AM 1
Semarang tidak hanya berperan sebagai ibukota Jawa tengah, lebih jauh lagi kaya dengan berbagai sejarah yang ada. Dari mulai sekarang perjuangan hingga kisah mistis di Lawang Sewu.

Sebagai ibukota porosnya Jawa, banyak hal-hal unik yang dapat ditemukan di Semarang. Selain polisinya yang dikenal "Galak" alias sangat displin dengan aturan lalu lintas, Semarang juga terkenal akan lumpianya yang makjos versi lain dari makyos.

Kali ini saya tidak akan bercerita tentang lumpia, selain takut lapar di saat menulis. Pada tulisan ini lebih memfokuskan tentang banyaknya stasiun tua di Semarang.

Bicara sejarah perkereta apian Indonesia, tak akan lepas dari Semarang. Sebab kota ini merupakan awal mula lahirnya stasiun pertama di Indonesia.

Banyak versi tentang stasiun pertama di Indonesia dan yang terkeren semuanya terletak di Semarang. Salah satu stasiun yang dianggap paling tua di Indonesia adalah stasiun Semarang NIS

Stasiun Semarang NIS mulai dibangun sekitar tahun 1864 dan selesai pada tahun 1867. Namun sayang stasiun itu sudah tidak beroperasi.

Stasiun tertua di Indonesia yang masih beroperasi ialah Stasiun Semarang tawang, saya sekadar pernah melewati stasiun ini dalam perjalanan ke Surabaya.



Saya berkesempatan menjejakan kaki di Semarang namun saya tidak berkunjung ke stasiun tertua karena keterbatasan waktu. Lumayan deh bisa berfoto di Stasiun Poncol.


Stasiun poncol selesai dibangun tahun 1914, duh sebelum Indonesia merdeka sudah ada ini stasiun. Perihal bangunan sih tidak terlalu besar seperti stasiun-stasiun yang ada di Jakarta, namun perihal sejarah menang banyak.

Rasanya ingin kembali ke Semarang, menjejak Stasiun NIS. Ingin aja belajar sejarah langsung dari lokasinya.

Sunday, February 24, 2019

Sehari Hidup di Jakarta

6:37 AM 6
Sebagai penduduk desa yang lahir dan besar di daerah, saya tidak sering merasakan kemacetan dan melihat ribuan orang berdesak-desakan. Namun ketika menjejak Jakarta ada sesuatu hal yang selalu dirasakan.

Jakarta dilihat dari puncak tertinggi Monas
(Dokumentasi pribadi)

Di tulisan sebelumnya, saya menceritakan tujuan ke Jakarta untuk menghadiri undangan dari Blibli

Baca juga : Berkreasi dengan Blibli.

Rumah saya di Bandung tapi bukan Bandung kota. Sekitar 1,5 jam untuk ke pusat Bandung. Walhasil bermacet-macet ria hanya ketika kuliah dan ada kepentingan ke kota Bandung.

Banyak orang yang berkata bahwa Bandung macetnya hampir seperti Jakarta, memang sih Bandung macet tapi tidak seseram Jakarta. Kalau dalam perbandingan macet Bandung itu 7 dan Jakarta 9.

Dulu teman yang bekerja di Jakarta pernah bercerita bahwa jarak beberapa KM saja kalau sedang macet harus ditempuh lebih dari sejam, warbiasa bukan ?

Kali ini saya merasakan sendiri, dari Thamrin ke Stasiun Pasar Senin saja memakan waktu hampir sejam. Jika naik motor waktu terpangkas setengahnya.

Berbicara kendaraan selama di Jakarta, 3 kali naik Grabcar dan 1 naik Grab Bike. Awalnya tidak terlalu macet tapi lama kelamaan Jakarta menampakan wujud aslinya.

Ditambah di jam pulang kerja sedikit susah untuk mendapatkan transportasi online seperti Grab dan Gojek.

Soalnya di saat yang sama orang-orang memesan Grab dan Gojek secara serentak. Saya harus mendapatkan kendaraan setelah menunggu 30 menit, setelah beberapa kali dicancel, hiks banget deh.

Selama di Jakarta cuma jalan-jalan ke tempat yang dekat-dekat saja. Senen-Monas, Monas-Istiqlal, Istiqlal- Thamrin, Thamrin, Senen. Segitu saja sudah menguras tenaga hehe.

Rasanya Jakarta harus meniru Malaysia yang mulai memisahkan pusat bisnis dan pusat pemerintahan, kalau tidak saya rasa akan semakin macet.

Baca Juga : Menjejak Malaysia

Macet itu membuat orang emosian, istilahnya kasarnya kesenggol dikit bacok.
Kalau hidup di Jakarta istilahnya tua di jalan deh.

"Ken, kalau mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar di Jakarta, apakah kamu mau tinggal di sana ? " Jelas nggak mau dong, lebih baik punya gaji atau penghasilan besar di sudut kota Bandung saja, Solo, Kediri, Jogja seperti lebih asyik. Haha.

Bolehlah sesekali ke Jakarta kalau ada keperluan, kalau untuk bekerja dan tinggal di Jakarta. Sorry to say "Saya bisa gila," hehe.

Entah kenapa lebih suka tinggal di tempat yang tidak terlalu ramai, kesannya iti nyaman. Kan yang jadi perhitungan utama itu kenyamanan, kamu aja kalau sama si dia udah nyaman nggak mau pindah ke lain hatikan ? Hehe.

Saturday, February 23, 2019

Berkreasi Bersama Blibli

10:00 PM 6
Alhamdulillah saya diberikan kesempatan untuk menghadiri gathering blogger bersama Blibli.com di Jakarta. Ini perjalanan paling niat saya dalam menghadiri acara blogger.


Rumah saya jauh dari Bandung, tepatnya 1,5 jam untuk mencapai pusat kota Bandung. Walhasil ke Jakarta perlu perjalanan yang lumayan menyita banyak waktu.

Di tulisan sebelumnya "Keliling Malaysia" saya adalah lelaki pemabuk jadi memutuskan untuk naik kereta api dari stasiun Kiaracondong ke Stasiun Pasar Senen. Tiba di stasiun pukul 8 malam, setelah sebelumnya dianter adik ke stasiun Padalarang lalu dilanjut menumpangi KRD lokal Bandung raya.


Kereta Serayu yang saya naiki berangkat pukul 00:25 walhasil saya menunggu lumayan lama, dari Stasiun sepi, rame hingga sepi lagi. Kasihan banget deh saya hari itu hehe.

Perjalanan dari Stasiun Kiaracondog ke Stasiun Senen, Jakarta menempuh waktu 4 jam, idealnya 3 jam hanya saja ada permasalahan ketika memasuki Jakarta.

Sekitar pukul 5 pagi sudah berada di Stasiun Senen. Bergegas salat subuh dan mencari makan, ketemu tukang bubur langsung dong pesan. Perut saya tidak bisa kompromi kalau lapar.

Acara gathering blogger bersama Blibli berlangsung pukul 13. Saya masih punya banyak waktu untuk keliling Monas dan menjejak Masjid terbesar di Asean, Masjid Istiqlal.


Detail keliling monas dan menjejak masjid Istiqlal, akan saya ceritakan terpisah karena asyik banget. Saya menyusuri sudut tersembunyi Monas dan diberi air zam-zam hadiah dari Raja Salman.

Singkat cerita saya tiba di kantor Blibli.com.
Kantornya unik sekali dengan desain ala-ala minimalis. Nyaman deh di sana, seperti nyaman bersamamu eh.

Saya sebenarnya telat datang, lupa Jakarta itu macet. Salah pilih kendaraan juga malah naik Grab car, tidak memilih Go bike atau Grab bike aja. Walhasil cukup oleng ketika tiba di kantor Blibli.com. Tidak terbiasa bermacet-macet ria jadi aga mabuk haha.

Acara Blibli diawali dengan bagi-bagi voucher belanja, lumayan deh. Terus workshop tentang beragam teknik blogging dan dikenalkan juga bermacam-macam toolsnya.


Saya tertarik banget namun kurang fokus karena masih mual, duh saya berasa jadi seorang ibu hamil. Mualnya bertahan awet banget. Harus mulai terbiasa nih dengan kondisi Jakarta yang macetnya gila.

Setelah itu pihak Blibli memberikan pengarahan mengenai plaform bloggerpartner.id sebagai sarana untuk blogger agar bisa bekerja sama dengan Blibli.

Blibli juga menjanjikan kerjasama spesial dengan blogger yang hadir, bahkan berani mengwujudkan mimpi blogger-blogger.

Satu persatu ditanya mimpinya apa ? beberapa menjawab. Saya hanya diam karena masih puyeng, padahal di dalam hati pengen nikah tahun ini hahaa. Itu big wish saya tahu ini.

Setelah ditanya perihal mimpi, Blibli.com menghadirkan program Bigwish yang memberikan gaji 5 juta perbulan selama 1 tahun. Syaratnya cuma install aplikasinya dan buat akun, nanti diundi untuk mendapatkan hadiah itu.

Kalau mau punya kesempatan lebih, bisa beli barang dan dapatkan kupon undiannya.
namun kalau belum punya uang, cukup buat akun saja sudah diberikan 1 kupon undian kok hehe.



Di acara terakhir, Blibli.com menghadirkan wirausahawan muda yang mampu membawa produknya hingga ke luar negeri bahkan ikutan pameran di New York. Warbiasa bukan ?

Uniknya tokoh wirausahawan yang dipilih memperkerjakan orang-orang luarbiasa yaitu saudara kita penyandang disabilitas. Beberapa di antaranya adalah tunarungu.

Keren pokoknya. Tidak hanya sebatas mencari profit tapi memetingkan aspek kemanusiaan juga. Blibli menghadirkan "mereka" sebagai motivasi untuk blogger yang hadir agar bisa berwirausaha.

Blibli juga meluncurkan program "Kreasiku" di sana kita diajak berpatner dengan Blibli.com tanpa syarat uang. Hanya harus punya produk kreasi sendiri saja.

Jujur setelah acara itu saya termotivasi, teman-teman kita saja yang memiliki keterbatasan bisa. Apalagi kita yang mempunya pancaindera normal, harusnya lebih bisa dong.


Thursday, February 21, 2019

Telpon dari Si Dia

10:44 PM 3
Telpon dari Si Dia
Sekitar pukul 14 ada seseorang yang menelponku. Nomornya pun tak aku kenal. Ah curiga ini pasti dia lagi yang sering menerorku.

Beberapa bulan yang lalu selalu ada nelpon yang menanyakan kapan bayar cicilan motor. Padahal cicilan motorku telah lunas setahun yang lalu.

Ketika aku tanyakan cicilan motor atas nama siapa, penelpon itu menjawab dengan nama yang kukenal. Iya, yang ditagih ialah tetanggaku.

Dia memasukanku nomorku sebagai nomor kerabatnya yang sewaktu-waktu bisa dihubungi kalau nomor dia tidak bisa diakses pemberi kredit motor itu.

Aku berkali-kali menegaskan bahwa tagih saja langsung ke yang bersangkutan, tetapi entah kenapa pemberi kredit motor itu selalu menelponku.

Entahlah dia kangen atau apa, yang jelas hal itu menganggu. Sempat aku utarakan kepada tetanggaku bahwa segera bayar cicilan motornya biar aku tidak ditelpon mulu.

Beberapa hari kemudian pemberi kredit itu menelpon lagi, aku berbicara tegas. Jangan libatkan aku dengan masalah tunggakan tetanggaku.

Nampaknya pemberi kredit itu takut, haha. Alhamdulillah deh tidak ditelpon lagi.

Namun beberapa hari yang lalu ada telpon lagi, aku termasuk orang yang jarang menerima telpon bahkan hingga berbulan-bulan.

Tetiba ada telpon pasti mengarah ke pemberi kredit itu. Aku angkat telpon itu, dia mengucapkan salam. Eh nampaknya ini bukan si pemberi kredit. Ini seseorang yang berbeda.

Jangan-jangan tetanggaku memberikan nomorku lagi untuk mencicil panci. Apakah yang menelponku pemberi cicilan panci ?

Ternyata bukan yang menelpon dari pihak Blibli.com yang menawariku untuk menghadiri acara yang mereka adakan.

Duh semenjak ada telpon dari si "dia" pemberi kredit motor tetanggaku. Menerima telpon jadi suka parno.

Sunday, February 17, 2019

Keliling Malaysia : Obat Putra Tidur dan Kaos Kaki Beracun

7:53 AM 4
Alhamdulillah diri ini mendapat kesempatan untuk menjejak Negara Jiran, Malaysia. Di sisi lain saya merasa senang karena ini pengalaman pertama mengunjungi negeri Upin dan Ipin.

Namun ada kekhawatiran yang berputar di kepala, saya adalah seorang pemabuk. Bukan mabuk janda dan mabuk judi karena kata Om Rhoma itu berbahaya.

Iya setiap naik mobil sering sekali mabuk. Walhasil mempersiapkan Antimo (Obat anti mabuk) karena terbang dari Bandara Soekarno-Hatta (Tangerang), perjalanan Bandung-Tangerang sekitar 3-4 jam.

Satu jam sebelum keberangkatan, saya minum satu antimo. Kebetulan saya tidak sendiri ke Malaysia tapi bersama teman-teman Magister Bahasa Indonesia.
                Suasana dalam bus

Awalnya di Bus tidak ada yang mau duduk dengan saya, sakit nggak tuh. Sebelumnya bercerita bahwa saya suka mabuk. Kalau sendirian begini jadi ingin berpuisi

"Aku ini binatang jalang, kumpulan jomblo yang terbuang," eh puisinya salah.

Tak rela melihat saya sendiri. Tibalah seorang pria tinggi besar serta berkepala botak menghampiri saya. Awalnya berpikir kok ada debt Collector, padahal cicilan motor saya sudah lama lunas.

   Sosok Om Hendra yang berkepala plontos

Ternyata yang menghampiri saya adalah Om Hendra, Kepala Sekolah yang merangkap menjadi Redaktur Bandungbaratpos.com. Dengan gagah berani dia duduk di samping saya, seolah menjadi pahlawan dia berkata

"Minum antimonya berapa Ken ?"

"Satu Om," jawab saya

"Empat saja," dia memasang wajah yakin.

Karena tidak mau masuk rumah sakit akibat overdosis obat mabuk, saya makan dua saja. nggak lucu masuk RS gegara overdosis antimo.

Benar saja selama perjalanan menuju Bandara saya tidak sadarkan diri, seperti putra tidur. Saya bangun ketika Om Hendra membangunkan. Mirip adegan putri tidur dibangunkan oleh pangeran dengan dicium. Aga geli membayangkan dicium Om Hendra haha.

Perjalanan selama di Malaysia saya tulis di sini " Tentang Perjalanan"

Singkat cerita tiba di Hotel, entah kenapa saya selalu bersama Om Hendra. Di Bus, pesawat bahkan sekamar di hotel. Di hotel banyak bercerita perihal kepenulisan, keluarga dan banyak perbincangan yang tidak lolos sensor komisi penyiaran haha.

Malam semakin larut, si Om sudah tidur. Saya masih menulis untuk blog. Beberapa detik kemudian datang suara mengerikan. Om Hendra ngorok dan ngoroknya itu seperti musik Hardcore walhasil semalaman saya tidak tidur.

Pagi tiba, alhamdulillah lolos dari polusi suara. Namun belum sampai di sana saja penderitaan itu. Saya keluar kamar sebentar untuk cari udara segar, setibanya di kamar duh kamar jadi bau tikus yang nggak mandi 7 tahun.

Bayangkan tikus aja bau apalagi dia nggak mandi 7 tahun. Setelah diselidiki itu bau kaos kaki Om Hendra, menurut pengakuannya kaos kaki itu semalaman dimasukan ke brankas yang ada di kamar. Ketika pagi dikeluarkan.

2 minggu yang lalu kaos kaki itu dipakai futsal lalu setelahnya dipakai lagi oleh Om Hendra ke Malaysia. Ya Allah, baunya seperti belerang dicampur sayuran busuk ditambah ekstrak terasi. Bayangkan deh, alhamdulillah saya tidak pingsan.

Untung ketika ketiduran di bus tidak dibangunkan dengan cara membekap saya dengan kaos kaki itu, kalau terjadi saya bisa-bisa tertidur untuk selamanya.

Saturday, February 16, 2019

Fairy Garden : Wisata Peri Berbasis Edukasi

7:20 PM 7
Tanggal 16 Februari 2019, saya bersama teman-teman Blogger Bandung diundang untuk menghadiri acara "Flowers Show and Farmers Market" di Fairy Garden, letaknya tepat di samping The Lodge Maribaya. Masih berada dinaungan yang sama dengan The Lodge sebenarnya.


Tentu sebagai orang yang suka berwisata apalagi gratis dan diberi makan pasti saya hadir hehe. Jarak dari rumah ke Fairy Garden lumayan jauh sekitar 1,5 jam, namun ketika ke sana semua kelelahan perjalanan saya terganti.

Pertama kali ke sana di sambut 2 orang peri yang menggemaskan. Setiap peri punya cerita tersendiri dan mendiami wahana tertentu, kita bisa bertanya siapa mereka dan tugasnya apa.


Saya sempat berfoto kekinian dengan background gunung, wait wait di sini gunungnya asli loh. Fairy Garden tepat banget di belakang gunung jadi kalau berfoto berasa jadi anak gunung, padahal aslinya anak mamah.
Di sini juga disajikan wahana edukasi yang unik untuk anak yaitu cara menanam tanaman dan mencari biji emas lalu menempanya, nanti si kecil akan diberi kalung yang ceritanya hasil tempaan dia sendiri. Padahal kalungnya sudah jadi hanya sekedar mengedukasi si kecil.



Fairy Garden juga menyajikan berbagai wahana di mulai trampolin hingga berkuda, ketika teman-teman lain mencoba berkuda.
Saya memilih tidak mencoba, kasihan kudanya keberatan hehe.

Kerennya lagi di Fairy Garden sedang ada acara "Flower Shows & Farmers Market.


Lebih jelasnya berikut sekilas tentang Fairy
Garden dan Flower Shows & Farmers Market :

TENTANG FAIRY GARDEN

Fairy Garden by The Lodge merupakan salah satu unit bisnis dari The Lodge Group, sebuah family edutainment park yang mengajak anak untuk belajar mengeksplorasi indera mereka dan menuangkan berbagai kreatifitasnya di berbagai aktivitas yg Fairy Garden tawarkan.



Selain itu, Fairy Garden juga menyediakan selfie spot (memakai sayap peri dan kostum gypsy) dan aktivitas lainnya yang dapat dinikmati oleh remaja maupun orang dewasa.

Menjadi suatu kebanggaan, Fairy Garden dapat bekerja sama dengan seniman ternama Bandung, Ibu Anya Madiadipoera dari NuArt Sculpture Art sebagai konseptor patung & karakter, dan designer ternama Bandung yaitu Deden Siswanto sebagai designer kostum para peri dan sayap.




Berbagai aktivitas dirancang untuk sebisa mungkin dapat mengakomodasi kebutuhan anak-anak yang sangat beragam.

Di dalam Fairy Garden terdapat 4 tema utama yaitu Art Factory, Florania, Lola’s Library dan Woodland. Di area woodland, terdapat spot foto bersama burung hantu seharga 35 ribu.

APA ITU FLOWER SHOW?

Flower Shows dan Farmers Market, acara yang diselenggarakan oleh Fairy Garden by The Lodge untuk kedua kalinya, terinspirasi dari wahana di Fairy Garden yang bernama Florania, di mana anak-anak diajarkan untuk mencintai dan merawat tumbuhan.

Tujuan utama Flower Shows & Farmers Market adalah untuk membuka peluang usaha para petani lokal agar dapat mempromosikan dan menjual hasil perkebunan dan pertaniannya seperti tanaman, bunga, sayuran dan buah-buahan.

Flower Show & Farmers Market kali ini berlangsung di tanggal 14-17 Februari 2019.

Terdapat special cabaret performance bersama para peri dan magic guardian, mini games seperti fun farming, gold mining dan gold smithing

(free dengan cara follow Instagram fairygardenbandung dan hashtag #flowershowbandung); looks like a fairy photo competition (dengan menyewa wings) dan menghias mini fairy garden competition.

Semua aktivitas tersebut hanya berlangsung selama acara Flower Show & Farmers Market 14-17 Februari 2019.

Waktu dan Tempat Kegiatan
Hari, tanggal : Kamis, 14 Februari 2019 – Minggu, 17 februari 2019
Waktu : 09.00 – 17.00
Tempat : Fairy Garden by The Lodge
Jalan Maribaya Timur No. 1 RT 01/RW 10 Desa Cibodas, Lembang, Kab Bandung Barat, Jawa Barat 40391

Tiket Masuk : Rp 35,000 (Fairy Garden + Flower Shows & Farmers Market)
Rp 50,000 (The Lodge Maribaya + Fairy Garden + Flower Shows & Farmers Market)

Acara dilakukan di dalam area Fairy Garden itu sendiri dan terbagi menjadi 2 bagian yaitu area Fairyland dan Woodland. Di area Fairyland, tersedia beberapa booth menjual bunga dan tumbuhan untuk turut mendukung area Florania, dimana Peri Lilian (peri bunga) tinggal.

Di area woodland, tempat tinggal Castor, elf yang ramah dan mempunyai hobi menanam sayuran, tersedia beberapa booth menjual sayuran dan buah-buahan dari para petani lokal.



Mulberry Hill by The Lodge, sebuah resort naungan The Lodge Group yang berjarak 500m dari Fairy Garden pun turut mendukung acara ini dengan membuka booth dan berjualan light snacks & coffee; mini games; sayuran dan buah-buahan. Ada pula booth The Lodge Foundation, sebuah organisasi yang bertujuan untuk memberdayakan warga lingkungan sekitar tempat wisata The Lodge Maribaya.

Anak-anak warga desa Cibodas dilatih dalam seni budaya, lingkungan hidup dan pendidikan. Semua biaya terkumpul dari setip tiket masuk The Lodge Maribaya yang disisihkan Rp 1.000.


Itulah sekilas tentang Fairy Garden, tak ada salahnya kita membawa si kecil untuk berwisata melihat peri sekaligus memeroleh edukasi tentang cara menanam bibit, pengolahan biji emas dan besi bahkan bisa berkuda dan menikmati puluhan wisata lainnya.

Untuk yang belum punya anak jangan takut, siapa tahu di Fairy Garden bisa dapat jodoh juga hehe.

Thursday, February 14, 2019

Jika Bisnis Bermula dari Hobi

12:04 AM 6
Jika bisnis  bermula dari hal yang hobi apa yang terjadi ?

Berbicara hobi, hobiku adalah travelling dan menulis. Lalu apa yang harus aku lakukan jika ingin mengubah travelling dan menulis menjadi bisnis ? 

Kreasiku untuk mengubah travelling dan menulis menjadi sebuah bisnis adalah memadukan keduanya. 
Perjalanan selama travelling aku ubah ke dalam bentuk tulisan, bisa berupa tulisan di blog atau bahkan dalam bentuk Novel, salah satu contoh "Menuntaskan Rindu" Novel ini aku buat atas dasar perjalanan imajinasiku yang diubah dalam bentuk tulisan.

Dokumentasi Pribadi
Seperti sehari yang lalu  kaki melangkah tempat yang lebih jauh dari sebelumnya, Negara Jiran,Malaysia menjadi tujuan untuk mengubah travelling dan menulis menjadi bisnis.

Kala itu pagi menjelang, aku kembali menyusuri sudut  lain Malaysia. Kali ini Batu Caves yang sudah berumur 400 juta tahun.

Aku menyusuri negeri Jiran hanya berbekal tas. Tas ini dihasilkan sepenuhnya dari kreasiku dalam menulis.
Blibli.com menghadiahiku sebuah voucher belanja, saat itu kebetulan tasku rusak jadilah membeli tas ini.

                     Dokumentasi pribadi


Yap, tas yang aku dapat dari voucher Blibli.com ini sudah mengarungi Pulau Jawa hingga menjejak sampai Malaysia. Terima kasih untuk Blibli yang telah menghadiahi tas ini, tasnya kuat sekuat tekadnya untuk bisa berkreasi dalam bentuk tulisan.

Aku termasuk orang yang tak mau ribet harus membawa koper, cukup dengan tas ini saja rasanya sudah kuat. 

Sambil menggendong tas aku menatap Patung berwarna emas Dewa Murugan tertinggi di dunia menyambut dengan jumawa. Ia menjadi pusat perhatian semua orang, letaknya sekitar 17 KM dari pusat kota Kuala Lumpur, Malaysia.

                      Dokumentasi pribadi
Keindahan Batu Caves semakin berwarna dengan keindahan 272 anak tangga.Tangga-tangga itu seolah menantangku untuk mendakinya. 

Sebagai lelaki yang mampu menghabiskan nasi padang jumbo sendirian tentu aku merasa tertantang. Namun apalah daya tenggorokan masih merasa mual, harus kuakui, aku adalah seorang traveler pemabuk yang terkadang kalau kondisi tubuh tidak fit, naik angkot saja muntah.

Demi kebaikan bersama dengan terpaksa tantangan dari 272 anak tangga aku abaikan. Memilih menepi di sisi yang tidak panas, memang ini terkesan pecundang namun terkadang keindahan harus ditatap dari kejauhan.

Dari kejauhan aku memperhatikan berbagai etnis dari India, Melayu, Arab, Eropa bahkan suku Sunda yang lucu seperti aku sibuk berfoto ria.

Di sisi lain banyak burung merpati yang sedang berlomba-lomba mencari makan, perut ini merasakan apa yang dirasa merpati.

Aku menepi meninggalkan sejarah 400 juta tahun yang lalu guna mencari nasi padang yang akhirnya tak dapat aku temukan. Sama seperti tas yang kupunya sejatinya Batu Caves adalah kreasi yang Tuhan ciptakan.

Selama perjalananku berkeliling  Pulau Jawa dan kali ini menjejak kisah di tanah serumpun Indonesia yaitu Malaysia, ada persamaan yang mendasar selain tas yang aku gunakan sama.
                    Dokumentasi Pribadi

Setiap kejadian sejatinya harus diabadikan baik itu dalam bentuk video, foto, tulisan. Kreasiku adalah mengubah perjalanan  dengan sebuah tulisan.

Jika kreasiku dalam
menggabungan travelling dan tulisan menjadi ladang bisnis yang mampu menghasilkan rupiah maka akan semakin banyak tempat yang akan aku jejak semakin banyak pula cerita yang akan aku bagikan.

Seperti yang disampaikan di awal mulailah bisnis dari yang kita sukai, dalam hal ini kesukaanku ialah travelling dan menulis. Semoga lewat perjalanan yang aku bagikan melalui tulisan menginspirasi banyak orang, mengubah hal yang ia sukai menjadi sumber rezekinya.

Bukankah suatu kenikmatan jika yang disenangi menjadi sesuatu yang menghasilkan. Itulah potongan cerita jika kreasiku menjadi bisnis.

Monday, February 11, 2019

Tentang Sebuah Perjalanan

5:37 AM 5
Alhamdulillah, Allah memberikan nikmat sehat dan kesempatan bagi saya untuk menyusuri sudut lain rumpun Melayu.

Di Negeri Jiran, Malaysia belajar arti sebuah perjalanan. Semakin banyak tempat yang engkau jejak semakin bijak dalam melihat sudut lain dunia.

Perjalanan saya mulai dari rumah memakai angkot dilanjutkan dengan naik kereta dan bus menuju Bandara Soekarno Hatta lalu terbang ke Malaysia.




Selama di Malaysia, menjejak banyak tempat dari mulai Masjid Putra, meski namanya Masjid Putra, tetap ada putri kok bahkan putri dari beragam negara, uniknya kalau ada putri yang memakai baju terbuka wajib mengenakan jubah ala-ala Harry Potter.


Selanjutnya melanjutkan ke "rumah" Perdana Menteri, hingga menaiki cabel car yang lumayan ekstrim di Genting Highland, yang menurut google adalah tempat perjudian terbesar di Asia tenggara.



"Loh, kenapa setelah ke masjid dilanjut ke tempat perjudian ? "

Sebenarnya tujuan utama ke Genting adalah menaiki cabel car yang membuat saya "oleng" seharian.


Kebetulan cabel car berhenti di tempat perjudian, ala-ala film Hongkong "Dewa Judi" saya menyusuri beberapa tempat melihat berbagai sudut pandang kehidupan, tentu tidak main judi karena kata Bang Rhoma "Judi meracuni keimanan"

Uniknya kata Pak Sabtu, Guide saya selama di Malaysia. Warga muslim Malaysia dilarang Judi di Genting, kalau warga muslim negara lain boleh hehe. By the way, Pak Sabtu punya adik dan kakak dari nama-nama hari, unik juga.

Sebagai penutup hari, saya mengunjungi Menara Kembar Petronas. Tempat yang wajib disinggahi ketika di Malaysia.

Besok akan ke mana lagi ? Biarlah kaki yang membawa saya pergi, tepatnya sih Bis hehe.

Tuesday, February 5, 2019

Kisah Warung di Atas Awan

1:22 PM 12
Warung adalah tempat yang gampang ditemukan di Indonesia dari warung sederhana yang menyediakan berbagai kebutuhan pokok, sampai warung kekinian seperti Warung Upnormal yang menjual makanan hits anak milenial.

Namun apa jadinya jika ada warung di atas awan ? bukan berarti warung ini tempat pilot ngaso atau Superman jajan gorengan. warung di atas awan terletak di puncak Gunung Lawu perbatasan antara Jawa tengah dan Jawa timur.

Kerennya lagi pemilik warung ini bukan superhero semacam Iron Man atau Spiderman. Mbok Yem, perempuan setengah baya berusia 60 tahun adalah pemilik warung tertinggi di Indonesia.

       Mbok Yem di Gunung Lawu via Dolanan             Blogger

Warungnya terletak di ketinggian 3000 di atas permukaan laut, tepat di bawah puncak Gunung Lawu yang konon banyak kejadian mistis ini.

Mbok Yem sudah mulai berjualan dari tahun 1980 atau hampir 30 tahun. Sebagian besar pendaki bercita-cita bertemu dengan Mbok Yem sekadar mencicipi pecel di puncak Gunung Lawu.

Hal yang unik dari Mbok Yem, beliau bukan pedagang musiman seperti pedagang di Gunung-Gunung lain, Mbok Yem menetap di Puncak Gunung Lawu. Ia hanya setahun sekali turun dari Gunung Lawu, tepatnya pada momen lebaran idul fitri saja, sekadar berkumpul dengan anak serta cucunya.

Pasokan makanan disupply oleh seseorang yang Mbok Yem bayar sebesar 500 rb sekali pengiriman. Namun menurut banyak penuturan pendaki, harga makanan yang dijual Mbok Yem termasuk normal, tidak dinaikan.
            Mbok Yem di Gunung Lawu Via.          
               Instagram/@jacksodron

Belajar dari kisah Mbok Yem yang totalitas dalam menjalani pekerjaannya, segala pekerjaan selalu diniatkan untuk membantu sesama. Banyak pendaki yang merasa terbantu dengan kehadiran Mbok Yem, tak jarang warungnya dijadikan tempat bermukim sementara banyak pendaki.

By the way, bagaimana kalau Mbok Yem punya gaya hidup seperti ibu-ibu kebanyakan yang suka kredit sesuatu. Misalkan Mbok Yem nyicil panci, apa nggak males yang nagih perlu perjalan 8 Jam menuju rumah Mbok Yem di Puncak Gunung Lawu ?

Saturday, February 2, 2019

Sakit, Ide, dan Rupiah

7:02 AM 5
Sudah seminggu lebih badan ini merasakan meriang, bukan sekadar merindukan kasih sayang. Lebih jauh lagi badan menggigil disertai pegal dan pusing di kepala.

Adik, mamahku juga mengalami hal yang sama, duh kompakan dalam hal sakit sih nggak asyik banget.

Di sela-sela sakit ini, mau menulispun aga sedikit susah. Mencoba mengolah ide terbentur dengan pusing kepala, dan akhirnya muntah-muntah deh. Padahal aku tidak hamil hihihi.

Memang yang paling enak itu menulis di kala sehat, lepas banget pokoknya. Walhasil aku beberapa hari tidak menulis, sebelum ada beberapa email yang memaksaku untuk menulis.

Pertama email dari blogpartner, yang menawariku mereview HP Realme, tentu dalam bentuk tulisan. Sayangkan kalau dibuang, aku kerjakan deh diselingi beberapa kali mual, karena mencari diksi ciamik di kala meriang itu susah.

Tak sampai di sana, selang sehari ada job menulis lagi dari Rajabacklink.com kali ini menulis tentang sebuah web penyewaan proyektor, hajar deh dan akhirnya beres juga.


Selang sehari dapat job lagi, kali ini bukan untuk menulis tapi untuk membuat video. Nah, kali ini cukup puyeng, wajah pucat pasi disuruh buat video. Kalau dicancel juga tidak enak duh. Sampai saat ini masih berpikir, ambil atau tidak 😅