Negeri tanda tanya

aku tersesat dinegeri tanda tanya, dimana setiap rakyatnya hanya bisa bertanya. Seorang anak kecil bertanya “ mamah, Apakah aku bisa sekolah ?”. seorang pemuda bertanya  “masih adakah pekerjaan untukku ? “, Seorang ibu bertanya “harga terus naik, apakah keluarga ku bisa makan besok ?”, Bahkan seorang nenek pun bertanya “masih adakah lahan untuk menguburkan ku nanti ?”.

Setiap orang bertanya dengan masalah yang sama, namun semakin banyak pertanyaan maka semakin sedikit peluang untuk mendapatkan jawaban, malah setiap pertanyaan akan melahirkan berbagai pertanyaan lagi. Entahlah siapa yang akan mampu memberikan jawaban bagi negeri tanda tanya ini ? . nah aku sendiri-pun bertanya.
               Ada hal unik di negeri ini, hampir sebagian besar orang di negeri ini bebas bertanya apapun meski dipastikan tidak pernah mendapat jawaban, tapi ada suatu peraturan yang berlaku setiap 5 tahun sekali menyatakan pada waktu itu semua rakyat jangan bertanya. Waktu itu adalah waktu pemilihan THE QUESTION ,  the question adalah kepala pemerintahan di negeri tanda tanya ini, the question memiliki berbagai hak istimewa, seperti : kebal hukum, bebas menikahi siapa saja wanita dinegeri tanda tanya, memberikan grasi. Tapi ada satu hal yang tak bisa dilakukan the question, yaitu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan rakyat-nya, bukan karena dia tidak mau memberikan jawaban, tetapi dia pun tak bisa menjawab pertanyaan rakyatnya.
Dia hanya bisa memberikan janji-janji yang dilakukan 5 tahun sekali , berjanji akan menjawab semua pertanyaan rakyatnya, karena saat itu rakyatnya tidak boleh bertanya, mereka tidak dapat memastikan apakah itu benar atau tidak ?. meski kurasa jawabannya tidak.
               Aku mulai penasaran. Kenapa mereka semua terus bertanya meskipun tidak menemukan jawaban. Aku harus menemukan jawaban. Ku telusuri tepian kota negeri tanda tanya, seperti biasa disetiap sudut terlihat orang-orang yang saling bertanya. Tak pernah ku temui orang yang menjawab pertanyaan, meskipun dengan kata “ ya atau tidak”.
Benar saja, semakin banyak ku mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, maka semakin banyak pertanyaan baru yang muncul. Mengapa mereka terus bertanya ?, mengapa tak ada satupun dari mereka yang menjawab?. Lelah mulai terasa, kaki terasa pegal karena terus berjalan. Sudah 7 jam mencari jawaban di negeri tanda tanya ini, ku berjalan menuju danau yang nampaknya sepi sekali, tidak terlihat kerumunan orang-orang yang saling bertanya, tidak seperti lokasi-lokasi yang aku kunjungi sebelumnya. Ku putuskan untuk beristirahat sejenak disana, siapa tahu akan menemukan jawaban.
               Danau-nya tampak indah. warnanya biru, pantulan dari langit yang cerah. Sejuk sekali disini. Serasa bukan berada di negeri tanda tanya, tapi kenapa yah ? ditempat seindah ini tak ku temui orang yang sama sepertiku, yang jengah dari setiap pertanyaan. Ku telusuri setiap sudut danau ini “indahnya”,  kata yang selalu muncul didalam benak ku. Danau ini dapat melupakan sejenak pertanyaan-pertanyaan ku.
Hampir satu jam ku berada di danau ini, 30 menit ku gunakan untuk menelusuri sudut-sudut danau, 30 menit lagi aku tertidur dibawah pohon rindang yang menghadap ke arah danau.
Ketika terbangun ku dapati seorang kakek tua yang sedang memancing, darimana ia datang ? lagi lagi pertanyaan yang selalu muncul dibenakku. “ kek, sejak kapan kakek disini ?”, Aku mencoba bertanya, kakek itu tidak menjawab sedikitpun, “ kakek sudah lama disini ?”, Lagi-lagi kakek itu tidak menjawab pertanyaan ku. Oh aku lupa, ini adalah negeri tanda tanya, dimana rakyatnya tidak memiliki jawaban dan hanya mampu bertanya.
Ku hentikan pertanyaan-pertanyaan kepada kakek itu, karena aku tahu, tidak akan menemukan jawaban, tapi ada yang aneh dari kakek itu. Ia tidak seperti rakyat negeri tanda tanya kebanyakan. Fisiknya terlihat sehat dan kuat, raut wajahnya tidak menunjukan kebingungan. Seakan ia tidak memiliki pertanyaan satupun.
Semakin ku lihat kakek itu semakin banyak pertanyaan dibenakku, ku coba bertanya lagi kepada kakek itu, dengan resiko tidak dijawab seperti biasanya “ kakek asli orang sini ?”,  “ kakek tidak ikut memilih the question ?”, “ kakek sudah tua ? “, ahhhh pertanyaan ku semakin kacau, tidak ada satupun pertanyaan yang mendapatkan jawaban. Tapi tunggu dulu, seperti kakek itu mengerti ekpresi ku yang frustasi akibat pertanyaan-pertanyaan yang tak menemukan jawaban.
               Kakek itu mengambil sebuah buku dan alat tulis, ku lihat ia menuliskan beberapa kata disobekan kertas, lalu kertas itu diberikan kepadaku. “ maaf, bukannya saya tidak mau menjawab pertanyaan mu nak, tetapi saya tidak bisa menjawab. Saya satu-satunya orang dinegeri ini yang bisu, saya dijauhi penduduk negeri ini, karena saya juga satu-satunya orang yang tidak pernah bertanya. Setiap hari yang saya lakukan hanya memancing.“ lalu apa yang kakek lakukan ketika orang lain sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yah ? “ kakek itu kembali menuliskan sesuatu dikertasnya dan memberikannya lagi kepadaku.
Memancing. ketika orang yang lainya sibuk bertanya, saya biasanya memancing. Terlalu lelah jika harus bertanya lagi, dengan cara yang saya lalukan ini. Menuliskan dengan pena berbagai pertanyaan yang sama sekali tidak menemukan jawaban. Ketika orang lain sibuk bertanya “ siapa yang bertanggung jawab atas negeri tanda tanya ini”, Saya hanya bisa memancing. Ketika orang lain sibuk bertanya “kenapa kita selalu miskin dan kelaparan? “, Saya hanya bisa memancing dan ketika semua orang bertanya “ kenapa kami tidak pernah menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini ? “, Saya hanya bisa memancing.
“apakah kakek tidak berusaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kakek? Atau kakek tidak merasa aneh dengan negeri ini ? ”, Kembali kakek itu menuliskan sesuatu dan menyerahkannya kepadaku. “Untuk apa mencari jawaban nak, kalau saya tidak memiliki pertanyaan. Dulu saya memiliki pertanyaan tapi pertanyaan itu sudah terjawab”.
“Terjawab kek, oleh siapa ? bukannya negeri ini hanya bisa bertanya dan mengeluh karena pertanyaannya tak terjawab ? “ kembali kakek itu menuliskan kata-kata dikertasnya, namun kali ini berbeda ia memberikannya sambil meninggalkan ku yang bingung dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin bertambah.
“ jawaban itu terjawab oleh saya sendiri nak, dengan berhenti bertanya adalah jawaban .”
               Bingung semakin menjadi, mana mungkin pertanyaan akan terjawab dengan berhenti bertanya, tapi kakek itu berbeda dengan rakyat tanda tanya lainnya. Diwajahnya tidak ada rona kegelisahana sedikit pun. Apakah jawabnya memancing ? , baiklah akan ku coba memancing.
Cacing dan alat pancing sederhana telah aku temukan, semoga dengan memancing aku menemukannya jawabannya. Kailnya sudah ku lempar, tinggal menunggu beberapa menit saja, dan benarnya saja, kail ku bergetar pertanda ada ikan yang memakan umpan. Ikan sudah ku dapatkan, tapi belum terjawab pertanyaanku. Kakek itu bohong, terlintas dipikiranku. “ ikan apakah kau memiliki jawaban dari pertanyaan ku ? “, Ahhhh makin gila rasanya, ikan pun tidak menjawab pertanyaan ku.
Ku tatap ikan itu dan yang paling penting ku berhenti bertanya kepada ikan itu, aku tak mau gila karena tersesat di negeri tanda tanya ini, “ kenapa kau tidak pernah mengeluh ditakdirkan menjadi ikan ? ”, Tanpa sengaja pertanyaan gila ku kepada ikan kembali terlontar.
“ Kenapa ikan tidak pernah mengeluh, ketika ia ditakdirkan menjadi ikan ? ”, Semakin banyak saja pertanyaan ku. Sejenak aku ingat perkataan kakek itu, kau akan mendapatkan jawaban ketika berhenti bertanya, aku mencoba berhenti bertanya. Aku mulai mencoba menjawab.

               Ikan tidak pernah mengeluh karena ia nyaman menjadi ikan, ia melakukan apa yang bisa dilakukan oleh sebaik-baiknya ikan. Iya itu jawabannya, lalu manusia selalu bertanya dan mengeluh karena ia tidak melakukan apa yang bisa dilakukan sebaik-baiknya manusia.
Tidak harus selalu bertanya untuk menemukan jawaban, cukup melalukan sebaik-baiknya hal yang kita lakukan akan menemukan jawaban dari pertanyaan. Tidak perlu bertanya “tuhan apakah engkau bisa adil terhadap ku ? “,  Tidak perlu bertanya yang jawabnya dapat kita temukan dengan berhenti bertanya lalu bekerja dengan sebaik-baiknya.
               Akhirnya aku menemukan jawaban dinegeri tanda tanya, dengan berhenti bertanya, pertanyaan yang saling menjatuhkan. Ketika bertanya hanya menjadi masalah, cukup diam jika tidak mampu menjadi solusi.

N.GILANG

Post a Comment